PKS MENGIKUTI JEJAK NASDEM, MENERIMA HASIL PEMILU

Oleh : Ahmad Khozinudin
Sastrawan Politi

“Buat kami PKS cukup paling tidak meningkat lah walau hanya tiga kursi jadi lima kursi. Artinya dari 8 juta sampai 12 juta,”

[Sekjen PKS, Habib Aboe Bakar Al Habsyi]

Orientasi parpol beda dengan relawan atau pendukung. Relawan dan pendukung, biasanya full mendukung Capres. Sementara, Parpol bersikap mendua.

Karena Parpol memiliki arah politik tersendiri yang telah disusun. Tidak insidental dan partisan seperti relawan dan pendukung.

Saat masa kampanye, relawan dan pendukung bisa full power kampanye untuk Paslon. Sedangkan kader Parpol, lebih sibuk mengamankan dapilnya agar lolos menjadi anggota DPR.

Suara kader parpol yang menjadi caleg, akan fokus memenangkan dirinya. Bukan Capresnya.

Karena itu, tidak aneh jika NasDem langsung umumkan menerima hasil Pemilu 2024 yang diumumkan KPU. Secara perolehan suara, suara NasDem naik ketimbang Pemilu 2019. Begitu juga PKS.

Jadi, ketika Anies Cak Imin berpidato mempersoalkan Pemilu dan akan membawa perkara ke MK, tidak demikian dengan NasDem dan PKS. Kedua partai pengusung Anies ini menerima hasil Pemilu.

Pragmatisme politik parpol, tidak bisa dihindari. Sementara semangat relawan dan pendukung, memiliki arah politik yang berbeda dengan parpol.

Jika relawan dan pendukung full power mendukung proses ke MK, parpol dipastikan hanya akan memberikan dukungan parpolnya. Parpol lebih fokus menentukan posisi, apakah akan berkoalisi atau beroposisi.

Jika sudah punya kebulatan tekat untuk koalisi, maka parpol segera mencari jalan untuk merapat ke kekuasaan. Dan demikianlah, langkah yang ditempuh NasDem. Arahnya, akan merapat ke kekuasaan.

Adapun PKS, masih belum bisa diprediksi. Ada aspirasi yang ingin membawa ke gerbong kekuasaan, setelah puasa 10 tahun di luar pemerintah. PKS pernah merasakan betapa legitnya kekuasan, saat berkoalisi bersama SBY di pemerintahan.

Alhasil, politik adalah soal kekuasaan. Bagi relawan dan pendukung, harus punya kesadaran posisi mereka hanya pengekor. Tak punya otoritas untuk menentukan arah perjalanan politik. Suaranya, hanya dipertimbangkan untuk ke TPS, untuk demo dan perang medsos. [].