Dengan Logika Sederhana ini
Hakim MK Kabulkan Gugatan

OLEH ADHIE M MASSARDI

Gan dan Nies, bukan nama sebenarnya, melaporkan Bow dan Gib, juga bukan nama sebenarnya. Isi laporan: Bow dan Gib dituduh telah ngerampok uang Gan dan Nies di Bank Swara. Jumlahnya puluhan juta!

Depan hakim, Sang Profesor pengacara Bow dan Gib membantah dengan segala bukti canggih. Tak ada visum atau ancaman kekerasan terhadap kedua korban.

Saksi dari Komisi Perbankan Umum (KPU) menjelaskan proses keluarnya uang korban dari Bank Swara wajar sewajar-wajarnya. Menggunakan ATM dengan PIN yang benar oleh Gan dan Nies.

Saksi ahli telematika putar rekaman CCTV bagaimana Gan dan Nies menyerahkan uang secara suka rela kepada Bow dan Gib. Maka dengan demikian tuduhan perampokan itu hoaks belaka! Begitu kesimpulan Sang Profesor.

Giliran Bivi, Fer dan Cheng, trio pengacara Gan dan Nies diminta hakim bicara. Tapi ketiga pakar pencurian uang di bank ini tidak bicara. Mereka hanya putar Dirty Hand, video dokumentasi yang mereka peroleh dari Dandhy, yang kebetulan ada di TKP dan secara naluri jurnalistik merekam adegan kejadian itu secara runtun.

Video bertajuk Dirty Hand itu menampilkan tayangan tangan Wid (konon ini bapaknya Gib) nepuk pundak Gan. Pada kesempatan yang lain, nepuk pundak Nies.

Setelah itu kedua korban bersama Bow dan Gib menuju ATM. Lalu Gib dan Nies nyerahkan uang kepada Bow dan Gib. Kemudian keduanya menghilang. Tinggal Gan dan Nies yang bengong. Seperti baru bangun tidur.

“Inilah yang di dunia kriminal disebut perampokan bermodus hipnosis atau hipnotis, Pak Hakim,” kata pengacara Gan dan Nies.

Hakim lalu bertanya pada kedua tersangka.

– Apakah Gan dan Nies punya utang kepada kalian?
+ Tidak.
– Apakah kalian jual jasa kepada Gan dan Nies?
+ Tidak.
– Lalu kenapa mereka ngasih uang kepada kalian?
+ Tidak tahu.

Karena Hakim ini memang cerdas, maka lekas bikin kesimpulan cepat dengan logika sederhana. Begini: Semua
tindak pidana ini bermula dari adanya Dirty Hand.

Vonisnya: Bow dan Gib dinyatakan bersalah. Polisi diperintah segera nangkap Wid, pemilik Dirty Hand.

Karena kisah ini viral, dan Hakim Mahkamah Konstitusi tidak mau dibilang lebih gebleg dibandingkan dengan hakim di Pengadilan Tingkat Rendah, maka dalam sidang gugatan hasil pemilu, kepada TERGUGAT Hakim MK bertanya begini:

– Apakah kalian paslon paling cerdas?
+ Tidak.
– Apakah kalian paslon yang tema kampanyenya paling disukai rakyat?
+ Tidak.
– Apakah dalam debat di televisi nilai kalian paling bagus?
+ Tidak.
– Lalu kenapa rakyat banyak yang milih kalian?
+ Tidak tahu. Jangan-jangan rakyat pasti juga tidak tahu…!

Kesimpulan saya: Jika Hakim MK juga diputarkan dokumen audio visual Dirty Vote, dan tetap tidak mau dibilang lebih gebleg ketimbang hakim di Pengadilan Tingkat Rendah (PTR), maka keputusannya pasti lebih cerdas dari hakim yang menghukum Bow dan Gib dan nyuruh polisi nangkap Wid.

Benar, dalam legenda hukum, keputusan hakim paling cerdas dan paling bijak sering kali landasannya logika sederhana. Contoh paling populer dan dicatat dalam Kitab Suci adalah keputusan Nabi Sulaeman saat mengadili sengketa bayi yang diperebutkan dua wanita itu…! @AdhieMassardi