Intrik Mega dan Jokowi,
Teater Tipu-menipu…”

Faizal Assegaf (kritikus)

Panas-dingin hubungan Megawati dan Jokowi hanya beda bau dalam esensi kotoran. Sama-sama berperan merusak tatanan bernegara dengan sajian aneka sandiwara.

Sepuluh tahun lebih, kedua sijoli hadir membadutkan teater politik tanpa rasa malu. Di kandang banteng, betapa beceknya tipu muslihat dimainkan. Mega-Jokowi terlibat dalam segala pemufakatan tanpa berkesudahan.

Meminjam sindiran keras Habib Rizieq, kedua politisi tersebut ibrat dua ekor buaya yang saling berganti memangsa. Rakyat menjadi korban dari setiap kebijakan yang mereka buat. Di permukaan seolah ribut, tapi di belakang mesra.

Ihwal itu memposisikan PDIP tak ubahnya panggung lawakan politik. Buas, bengis dan koruptif diperankan. Ini bukan lagi partai, tapi seolah bakul sampah yang isinya hanya mendaur ulang satu adegan ke cerita usang berikutnya.

Jelas rakyat semakin muak. Partai yang mestinya menjadi sarana pengabdian pada hidup rakyat, jauh lebih memamerkan kepentingan dua dinasti yang asyik berebut kuasa. Soal jatah kekuasaan menjadi fokus pertentangan.

Pada ujung kekuasaan Jokowi, manuver PDIP dalam lakon Hasto dan Mega seolah menunjukan perpisahan. Satu per satu isu dihembuskan demi tujuan membersihkan jejak hitam. Padahal, Jokowi dan PDIP hakikinya satu warna: Hitam!

Di lorong gelap, dalam satu dekade begitu banyak persekutuan jahat Mega dan Jokowi merobek hati rakyat. Senyawa politik yang sangat brutal menghancurkan bangunan kebersamaan anak bangsa dengan aneka kebijakan culas.

Rakyat semakin cerdas dan sangat memahami, tidak ada yang penting dari pertengkaran Jokowi dan Megawati. Hanya soal jatah, tahta dan bagi-bagi kepentingan politik. Omong kosong saja bicara soal kepentingan rakyat!

Dan kini PDIP dan Megawati pura-pura berantam. Alur dari cerita gombal tersebut demi memastikan Puan Maharani melenggang mulus jadi Ketua DPR dua periode. Selanjutnya Jokowi didorong untuk memimpin Golkar.

Teater tipu-menipu dua dinasti politik…!

**