Poros Rawamangun Laporkan Pendeta Gilbert ke Polda Metro Jaya Terkait Dugaan Penistaan Agama

JAKARTASATU.COM– Elemen masyarakat yang tergabung dalam Poros Rawamangun beserta perwakilan ormas pemuda, ormas Islam, perwakilan umat Kristiani serta Advokat melaporkan pendeta Gilbert Lumoindong ke Polda Metro Jaya atas dugaan penistaan agama Selasa,(16/04/2024).

Pendeta Gilbert Lumoindong dilaporkan ke polisi karena dinilai telah menodai ajaran agama Islam terkait besaran zakat 2,5 persen dan pelaksanaan ibadah umat muslim.

Ketua Bidang Hukum dan HAM Poros Rawamangun, Muhamad Fayakun menyatakan bahwa laporan beberapa komponen organisasi kepemudaan, advokat, aktivis serta komponen masyarakat salah satunya Poros Rawamangun, secara bersamaan melaporkan Pendeta Gilbert Lumoindong ke Polda Metro Jaya, yang bersangkutan dipolisikan buntut dari viralnya video dugaan penistaan agama yang tersebar di media sosial.

“Dalam khotbahnya, Gilbert menyindir soal jumlah zakat yang dibayarkan oleh umat Islam dan gerakan shalat yang sangat disakralkan,” kata Muhamad Fayakun.

“Baru saja, Kami berkoordinasi dan sekaligus membuat laporan ke SPKT Polda Metro Jaya terkait dengan adanya dugaan tindak pidana penistaan agama yang dilakukan oleh Pendeta Gilbert Lumoindang, untuk itulah kami berkoordinasi dengan pihak penyidik Direktorat Reserse Kriminal Polda Metro Jaya, yang menerima Kami secara terbuka,” tegas Muhamad Fayakun usai menyampaikan laporan.

Pendeta Gilbert dinilai telah melanggar pasal 156 ayat 1 KUHP dan UU No 1 tahun 2024 tentang IT.

” Terima kasih kepada Bapak Kapolda Metro Jaya yang telah menerima Kami, sejumlah elemen masyarakat yang melaporkan pendeta Gilbert yang dalam khotbahnya telah menistakan agama kami, umat muslim,” ungkap Muhamad Fayakun.

Fayakun berharap polisi segera memproses laporkan ini agar ke depan tidak ada lagi penodaan agama.

Selain Poros Rawamangun, lanjut Muhamad Fayakun, ada beberapa advokat, komponen pemuda Jakarta maupun komponen masyarakat, termasuk dari kalangan umat Kristiani yang juga melaporkan Pendeta Gilbert ke pihak penyidik Polda Metro Jaya.

“ Ya, Kami mencermati apa yang telah dilakukan oleh Pendeta Gilbert di tayangkan di video tersebut, merupakan tindakan penyebaran informasi yang menyesatkan, sehingga sangat merugikan masyarakat, dan juga bisa berdampak memicu kemarahan masyarakat, dalam pasal tersebut disebutkan bahwa bagi pelakunya bisa terancam hukuman 6 tahun penjara.” tutur Muhamad Fayakun.

Fayakun menegaskan, Gilbert harus mempertanggung jawabkan ucapannya, yang mengandung tindak pidana melanggar pasal 156 ayat A KUHP yang mencantumkan ketentuan hukum mengenai penyalah-gunaan atau penodaan terhadap suatu agama yang dianut di Indonesia, dengan ancaman pidana penjara paling lama empat tahun, dengan ketentuan hukum tersebut, pihaknya berharap penyidik Polda Metro Jaya segera melakukan pemeriksaan terhadap Gilbert.

“Ini tidak boleh dibiarkan, Gilbert telah menciderai nilai-nilai toleransi, karena itu Kami sangat berharap agar pihak Polda Metro Jaya segera menindaklanjuti laporan kami tersebut,” tutup Muhamad Fayakun. (Yoss)