Ekamatra

Oleh: Taufan S. Chandranegara, praktisi seni, penulis

Satria mahasuci Bhisma, gugur, di perang Kurusetra pada hari ke sepuluh. Ia gugur akibat panah Srikandi. Bhisma telah bersumpah tak akan melawan Srikandi. Arjuna memelesat panahnya dari belakang Srikandi kearah Bhisma kemudian, setelah anak panah Srikandi menembus dada Bhisma bertempur tak sepenuh hati. Bhisma gugur, para dewa di kahyangan prihatin; tak mudah menjadi kesatria berjiwa bening di perang terbuka.

Kisah perang permanen ataupun perang sebagai bentuk arisan perdagangan dunia. Apakah bangsa manusia tengah mencoba belajar menuju persiapan perang dunia ke tiga? Rentang kamuflase kehidupan kemanusiaan anomali isme kebenaran analisis individualistis – sebuah negara, misalnya, barangkali diyakini negara – negara pengekor isme tersebut, sebagai bentuk kata lain dari topeng badut kapitalistik monopoli profit orientasi egomania kelas makhluk hidup.

Bodok amat planet bumi porakporanda. Apalah artinya kemanusiaan kalau dibandingkan mata uang billion hahaha dalam putaran waktu tanpa bunga bank. Penghancuran gratis harkat kemanusiaan atas nama kapitalisme invasi, akibat kepandiran konspirasi oknum negara modern tekno industri tertampak, mungkinkah seperti itu? Lantas siapa konspirator sesungguhnya di balik kelambu di atas ranjang empuk bergoyang aduhai.

Siapa penghancur artefak bersejarah abad ‘Kewahyuan’ dengan alasan kliseisme invasi demi isme terpopuler di dunia, meski senantiasa merugikan sepihak. Apalah artinya risalah kesepakatan keamanan kelas planet bumi, basa – basi, dari koordinator antar tetangga di planet bumi. Apakah kesadaran mengayomi kepentingan seolah – olah menjawab keabstainan bermuka dua berkelamin ganda, lantas menggunakan hak vetonya demi satu golongan kepentingan profit perkapita rudal jelajah. Wow!

Keuntungan perang mungkin dapat dipastikan berkemampuan menghancurkan si lemah. Bodok amat matinya kemanusiaan, moralitas antar bangsa-bangsa tak penting untuk dirisaukan sekalipun terjadi penghancuran artefak bersejarah era‘Kenabian’ terus berlangsung. Barangkali penguasa perang telah merasa menjadi; berhala baru. Tak lagi penting sejarah spiritualitas universal abad lampau “Rudal saja”, suara ajaib dari balik api neraka.

Lantas siapa terorisme di planet bumi sesungguhnya, ketika penghancuran sejarah akibat senjata modern meluluhlantakkan kehadiran bangsa-bangsa beradab sejak abad Kewahyuan. “Oh! Wow! Itu masa lalu, tak penting lagi.” Oke, jika itu pilihan pendapatmu sebagai penguasa peradaban modern, konon, sekalipun impotensi privat kau tutup tumpang tindih agar negerimu tak tampak terpuruk di mata planet bumi.

Satu pertanyaan “Apakah kau terlahir dari dalam batu?”

Tentu saja kau punya banyak jawaban, ngeles, semirip dengan hobi cuci tangan, sekalipun mungkin kau sang pemasok senjata modern terbesar dalam kurun waktu musim perang di planet bumi. Namun sayangnya kau tak pernah menang dalam perang di benua tengah planet bumi, selalu keok sejak perang di benua bagian tenggara, selalu kalah di benua kuning, ternyata kau bukan bintang kelas wahid. Eh! Halah! Walahkadalah.

Apakah kau punya sesal? Semoga masih punya. Meski hegemoni puncak menara kau tak rela kalau tercerabut dari tanganmu. Itu sebabnya pula mungkin, kau, senantiasa mentang – mentang dengan hak vetomu – hal itu, mungkin menunjukkan kelemahan cinta koordinator para tetangga di planet bumi – berakibat mencipta death pool.

Lantas, apakah masih berguna suatu perserikatan bersubsidi dari para tetangga di dunia, konon berkelas pula. Ketika risalah kemanusiaan sekadar menjadi catatan nilai, info statistik akibat peperangan?

***

Jakarta SATU, April 22, 2024.

Salam NKRI Pancasila. Banyak kebaikan setiap hari.