Konsensus

Oleh: Taufan S. Chandranegara, praktisi seni, penulis

Menepati janiji, kewajiban berjalan dengan nilai-nilai intrinsik sebagaimana mestinya, setulus seharusnya. Tak tepat janji dicatat malaikat plus bunga karma, apabila tak melaksanakan sesuai kesepakatan esensi, inheren janji itu. Nah loh. Kalau bilang cinta ya benar-benar cinta, setia. Bukan basa-basi uhui.

Apalagi lagi di abad modern ini. Jangan asal mengumbar janji lalu berkelit dengan kalimat,
sibuk atau lupa ha.ha.ha, alias emang pengen ngeles. Nah itu bahaya, selain dicatat malaikat, perasaan pemilik janji akan dikejar janji itu, kalau masih punya niat baik. Tapi kalau tak punya mental tepat janji. Wah gawat loh.

Janganlah asal janji. Sebab janji hampir serupa uang muka jikalau memesan produk atau jasa. Menghindar dari janji, pesanan akan hilang atau dihilangkan oleh komitmen, nah itu. Jadi, jangan lupa menepati janji secuil apapun, tuh dia. Tak ada istilah cilukbaaa! Semirip petak umpet. Sebab janji adalah janji, kewajiban menepati.

Berpikir kritis, strategis, mulia hati tidak boleh sombong. Apabila melaksanakan janji itu.
Apalagi sesuai janji dipodium publik. Janji pada publik, artinya janji pada masyarakat secaraterbuka, asli. Bukan tahu sama tahu asal pacar senang. Lantas berrakit-rakit dari hulu ke hilir, berniat ingkar perlahan-lahan. Ups! Terbang. Raib, bersifat koruptif.
Kenapa ketemu lagi dengan kata, koruptif ya. Nah ini biang masalahnya, setelah disumpah, diam-diam merayap mencoba melawan janji, nikung sana sini. Slep! Triliun raib. Loh kok bisa, di ranah ini pula barangkali disebut oknum bermental tipis mudah tergoda melihat triliun bergoyang gemulai aduhai; jadi tikus koruptor dalam sistem-sistem. Wah!

Mirip semacam coruption in the gangs has no limits. Serupa sihir hitam turun temurun.
Abakadabra! Buka sesam! Simsalabim! Hipnosis di awan-awan. Blink! Triliun raib lagi.
Iyau! Oh! Halah! Jagad dewa batara. Why gituloh, mental tipis macam itu bisa menyusup
dalam sistem-sistem. Wow! Nongol di news media.

Jadi headlines news media. Waktu zaman batu masih kaget & “Hah! Korupsi!” Entah kalau
sekarang. Barangkali rasa kaget itu enggan nongol. Mungkin pula sebab musababnya
intensitas perilaku oknum koruptor menggelembung seperti balon. Ingin bergaya hidup
modern tapi tak keren, alias memuakkan. Lantas bisa apa dong? Gigit jari cuy!
***

JakartaSATU.com, April 29 2024.
Salam NKRI Pancasila. Banyak kebaikan setiap hari.