Mangapul Silalahi Luncurkan Buku “Hitungan Jari Yang Sampai

JAKARTASATU.COM– Peluncuran dan bedah buku berjudul Hitungan Jari Yang Sampai Kenangan Renungan, Dan Catatan Pribadi, karya Mangapul Silalahi SH, diselenggarakan di Gedung RRI (Radio Republik Indonesia), di Jln Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Jum’at 24/5/ 2024.

Acara dihadiri narasumber Anty Sulaiman, Niko Adrian, Firman Tendry dan dipandu moderator Febby Lintang.

“Terdapat makna dalam setiap tindakan, serta pesan yang tersirat di dalamnya, yang bekerja secara halus. Jika kamu sungguh-sungguh berusaha dan tulus dalam upayamu, serta telah melakukan bagianku dengan sepenuh hati, maka bagian lain akan ditangani oleh yang lain. Meskipun itu tidak terlihat secara fisik, namun bisa dirasakan. Meskipun tak dapat dicapai secara langsung, namun dpat dilihat melalui hati. Jangan ragu atau bimbang, tetapi ikuti alur perjalanan itu, rasakan  getarannya, dan bukalah mata hatimu,” petikan di lembar awal buku goresan Mangapul Silalahi,

Hadir sebagai nara sumber, Niko Adrian sampaikan bahwa isi buku ini merupakan refleksi dari perjalanan pribadi. Buku ini bukan buku perdebatan, bukan buku karya ilmiah. Buku ini penting bahwa tanda anda pernah hidup di muka bumi ini, ini penting. Sesederhana apapun, ini bukan jejak ilmiah, tulisan dituang dalam buku ini merupakan pengalaman pribadi. Di buku ini mengungkapkan perjalanan jejak aktivis pergerakan tahun 96-97 hingga terakhir sekarang.

“Sebaiknya semua orang memang harus kita dorong teman-teman untuk menulis. Karena dengan menulis menunjukkan adanya kemampuan literasi menjadi baik dan meningkatkan kekayaan pemikiran, ” tandas Niko.

Mangapul Silalahi mengungkapkan kemampuan menulis dari ibunya yang merupakan seorang bidan dimana saat itu tahun 70an teknologi belum maju apalagi di kampung. Jadi setiap pasien yang datang kepadanya ditulis, direkord.

Mangapul mengisahkan ketika ia membantu ibunya, dimintanya untuk mencatat pasien dari boru apa. Dan ibunya mengarahkan untuk menyiapkan obat secara detail yang harus diberikan kepada pasien-pasien yang sudah sering ke datang ke tempat ibunya.

“Nah, dari situlah mulai belajar menulis kan harus mencatat apa yang diarahkan emakku, mengarahkan begini-begini,” kata Mangapul.

“Akhirnya sudah biasa merecord dengan menulis,” imbuhnya.

Selain itu Mangapul mengemukakan pengalaman membaca dimana saat itu di kampungnya, koran satu-satunya yang ada hanya koran Sinar Indonesia Baru. Pagi hari orang-orang tua yang baca, dirinya baru sore dapat giliran membaca. Halaman koran pun berpencar, halaman satu ada di sini, halaman duanya ada di sana.

“Yang mau saya sampaikan literasi dan belajar membaca sudah kuat di era itu,” ungkapnya.

Dalam proses sejarah, ternyata para pendiri Republik darin sejak muda melakukan proses penguatan membaca, berdebat, orasi seperi tokoh Bung Karno, Amir Syarifuddin dll dalam usia muda.

Mangapul mengakui apa yang disampaikan mentornya, Niko Adrian bahwa buku ini bukan buku perdebatan, bukan buku ilmiah dan silahkan untuk menulis. Apapun tulis saja semilas kekesalan kepada guru yang kepala batu, tulis saja. Kucingnya namanya apa suka ngapain, tulis saja.

Sementara Firman Tendry mengungkapkan pergulatan dialektika dengan Nico Adrian, Mangapul Silalahi di pertemukan dalam Forum Pers Mahasiswa Jakarta. Ada beberapa poros kampus di Jakarta yaitu di poros Jakarta Selatan yaitu UKI (Universitas Kristen Indonesia), Mustopo, ISTN, UNAS, IISIP, IAIN. Poros Timurnya IKIP. Poros utara UNTAG

Aku merasa bersyukur berada di kota yang mengajarkan kita harus siap dengan segala perbedaan dan pilihan politik.

“Tapi aku merasa kesel juga yang teriak-teriak lawan Jokowi!, Lawan Jokowi!. Eh ternyata ujungnya  mendukung anaknya Jokowi,” kata Tendry dengan senyum rasa tetap berkawan.

“Marah betul aku, sampai WA aku diblokir” ungkap Tendry diiringi tawa hadirin.

“Itulah berkawan, biarlah pada pilihannya. Kita tunggu aja, kau bisa merubah apa dari dalam,” ujar Tendry.

Dengan kelakar Tendry mengatakan kau nanti kujadikan Amir Syarifuddin.

Diskusi buku ini berlangsung dengan hangat dan cair, dihadiri peserta yang berbeda pilihan politik. (Yoss)