Koruptor Sambal Terasi

Oleh Taufan S Chandranegara, praktisi seni, penulis.

Sebuah negeri hanya perlu manusia lurus budi. Seremonial bukan ancaman tapi bisa jadi salah satu pintu masuk korupsi adigang adigung. Perencanaan strategis kemaslahatan publik tak boleh setengah hati tak bisa ditawar lewat gratifikasi humberger atau kalkun panggang. Lantas cengar-cengir siang bolong ketika sistem ketiduran.
Tak cuma obral aku patriot bangsa. Tegas komitmen “Aku ada. Aku hadir demi publik.” Kerja di realitas bukan kerja di awang-awang. Mengawang salah satu sebab korupsi bisa menyelinap, menguras kolam air milik publik. Iyo opo ora je. Begitu kan? Sebuah negeri dimanapun mengelola anggaran dari rakyat untuk rakyat, kan demokrasi katanya.
Tak perlu pula, teriak-teriak di bawah terik matahari bergaya koboi cengeng berpistol plastik, di dalam tong kosong berbunyi nyaring. Negeri Khatulistiwa, senantiasa damai, teguh bersatu, beriman kedaultan rakyat. Gemah ripah loh ji nawi. Sang Dwiwarna, senantiasa berkibar di tiang langit keimanan tertinggi, sublim.
Sublimasi bermakna luas ke arah negeri berkeimanan berkesejahteraan bersama. Bukan pula  sekadar catatan satu kata untuk kepentingan personal tapi etos kerja beriman untuk publik. Putra bangsa fajar baru membawa sejumlah angka demi kepentingan kemaslahatan negerinya juga bangsanya. Tak sekadar aksara angka-angka di antara alfabetis.
Kalau mungkin hingga menembus langit ke tujuh, lompatan besar mensejahterakan pemerataan pendapatan publik, ikhlas berjuang. Satu bahagia semua bahagia. Oleh sebab itu lini pemberantasan korupsi wajib lebih gencar dong. Lebih semangat, jangan menunggu bola. Jemput bola seperti timnas sepak bola contoh baik berbudi luhur.
Akan lebih dahsyat kalau teknologi sebuah negeri mampu mendeteksi korupsi sedini mungkin, mencegah sebelum terjadi. Agar percepatan pemerataan pendapatan kemaslahatan publik berjalan bening, konsekuen. Lebih cepat hadir menjaga gerbang sebelum tuyul koruptor nyopet di dalam laci-laci sebuah negeri.
Koruptor ngeselin dengan pidana tak membuat mereka jera. Entah bagaimana cara memberantas korupsi di dalam laci birokrasi. Barangkali diperlukan pandangan baru tentang undang-undang antikorupsi mampu membuat jera calon koruptor. Tampaknya perjalanan pemberantasan korupsi belum mencapai esensi maksimal.
***
Jakartasatu Indonesia, Juni 04, 2024.
Salam NKRI Pancasila. Banyak kebaikan setiap hari.