RAKYAT BUTUH SIAPA?

By: Rusdianto Samawa, Direktur Eksekutif Global Base Review (GBR)

Wahai Raja Di Kursi Merah

Saya menemui salah seorang nenek tua renta dibawah kolong playover Senen. Ku bertanya padanya “apa yang membuatmu hidup disini?, singkat jawabnya “aku butuh makan”.

Terbesit dalam hati “siapa yang butuh nenek dan nenek butuh siapa?. Itulah sebagian korban dari kebijakan negara. Belajar dari kasus Sampit, runtuhnya luar batang dan konflik sosial saling angkat senjata antar nelayan di Jawa Tengah baru ini. Lalu siapa yang tanggungjawab?.

Wahai Raja Di Kursi Merah

Kebijakan negara tak lagi populis, kebutuhan sudah tertukar tempat. Sekarang, nelayan pindah tanam padi, petani pindah berkeliling cari kerang, para buruh tertekan dollar dan TKI mengejar rezeki berujung mati.

Sekarang, negara dipenuhi hutang empat ribuan triliun lebih. Lantas, siapa mau bayar?. Warga negara sendiri terasing di negeri sendiri. Para tamu-tamu illegal diberi KTP, SIM, perjalanan murah. Bahkan pekerjaan dan dijamin makan tidur.

Sementara, nenek dikolong playover mengais rejeki dengan jual tissue, air keran dimasukan dalam botol Aqua, semua itu dilakukan untuk bertahan. Dimana nurani penguasa?.

Kata menteri “Gemar Makan Ikan, Kalau Tidak Ditenggelamkan”, himbauan itu hanya citra diri agar rakyat simpati pada ucapannya. Ketersediaan ikan hingga 12.9 juta katanya. Tetapi, ikan di pasar mahal, rakyat di desa-desa masih makan ikan asin kering, anak nelayan pulang sekolah makan garam plus cabe. Petani, makanan dan gizi untuk bekerja di sawah “berupa mie goreng”. Apakah negara sudah berfikirkah tentang apa yang dirasakan rakyat?.

Wahai Raja Di Kursi Merah

Negara impor beras katanya untuk kalangan menengah, tetapi stok gabah dan beras petani tak lagi di hargai. Sekarang petani pindah jadi Tenaga Kerja Sawit Illegal di negara lain karena berharap gaji banyak..Sementara penghasilan mereka di negara sendiri tak seimbang antara kebutuhan dan pengeluaran.

Tenaga Kerja Perempuan diluar negeri kian menjamur, mereka bangga sumbang devisa negara. Tetapi, negara tidak hadir ketika TKI itu mengalami penghinaan, kekerasan hingga pembunuhan.

Nelayan pindah profesi menjadi petani, karena mereka dilarang melaut. Karena laut mereka sedang diserahkan pada perompak asing. Sepanjang pesisir tanah dan laut Indonesia belum ada nelayan sejahtera. Mereka hidup dalam keadaan di hisap oleh negara.

Wahai Raja Di Kursi Merah

Para mahasiswa disibukkan tugas belajar. Tetapi, tidak meningkat pola terdidiknya. Hanya mampu datang pergi pulang dari kampus, sembari mereka bangga dengan IPK 4.00.

Ada juga politisi tamatan luar negeri dati gelar Professor hingga sarjana. Tetapi, mereka tidak secara dekat melihat apa yang dialami rakyat. Mereka klaim diri generasi milenial, tetapi hanya mampu membayangkan orang miskin dalam pikiran, belum ada pembelaan.

Era internet ini, semakin memusnahkan orang miskin dan rakyat yang tidak mengenal dunia maya atau media sosial. Para generasi milenial bekerja berdasarkan internet, tetapi lupakan rakyat miskin di pelupuk matanya. Padahal substansi mereka berasal dari masyarakat biasa.

Wahai Raja Di Kursi Merah

Rakyat butuh siapa? siapa butuh rakyat?. Jawabannya “bukan bingung”. Tetapi, karena eksploitasi media sosial internet. Kemudian, melupakan substansi pembelaan terhadap nelayan, petani, dan buruh.

Sesungguhnya, selama negara ini. Belum keluar dari wilayah terjajah. Bangsa ini belum merdeka, justru banyak menjerumuskan rakyatnya pada wilayah nisbi. Negara menjebak rakyat untuk miskin.

Peraturan dan hukum menggilas rakyat. Di zaman milenial katanya, pabrik paling ngeri disepanjang sejarah adalah pabrik yang namanya negara mampu mengamputasi seluruh rantai kesejahteraan rakyatnya untuk sekelompok saja.

Wahai Raja Di Kursi Merah

Hukum dan hakim kini tak lagi dipercaya. Anggota DPR berdebat soal dampak pidana dari undang-undang yang dibuat. Rakyat kecil menikmati pidananya hanya gara-gara ambil mangga satu buah di kebun tetangga untuk buka puasa. Rakyat kecil korban undang-undang hanya karena kritik para pejabat. Rakyat dikorbankan karena menyebarkan gambar pemimpinnya.

Wahai Raja Di Kursi Merah

Rakyat menderita karena utang negara tidak lunas-lunas. Malah bertambah hingga tak bisa dikendalikan. Pembangunan hanya kamuflase program, habis dibangun runtuh jadi puing. Untungnya sudah bejibun, tapi rakyat yang ditimpa puing bangunan itu tak kunjung sejahtera. Bahkan jaminannya susah didapatkan. Semua pekerja berasal dari negara tetangga. Kadang pekerja asing itu menganggap orang Indonesia malas dan bodoh. Lebih tragis lagi ketika pekerja asing melanggar undang – undang dan hukum, lalu pemerintah melongok sana sini, hanya pandai bicara “wah itu teknis kontraktor”. Dulu zaman Soeharto yang dirasakan pembangunan paling lama 20-25 tahun, sekarang hanya 3 tahun selesai. Lalu kualitas-nya bagaimana?.

Wahai Raja Di Kursi Merah

Para pekerja dunia online Gojek sana, grab sini, uber di sana, taksi disini, ojek kapling tempat. Mereka marak dan dikenal luas. Lalu terbit peraturan menteri untuk diatur, tapi tidak diterima karena dianggap merugikan. Beberapa kali mereka terlibat saling tikam menikam, saling intai satu sama lainnya, saling labrak antara ojek manual dengan gojek modern aplikasi. Mereka juga pernah demonstrasi menuntut haknya kepada pemerintah. Karena semua peraturan dianggap merugikan.

Wahai Raja Di Kursi Merah

Pelajar sekolah di pelosok negeri tak lagi kenal etika. Di Madura siswa memukul gurunya hingga mati. Di Jawa Tengah siswa terlibat skandal film porno. Di Nusa Tenggara Barat siswa terlibat perkelahian yang melibatkan keluarga antar kedua belah pihak. Tragis lagi, siswa perempuan di Sulawesi Tengah terlibat saling cakar-cakaran hingga urusan sampai kepolisian akibat rasa cemburu dituduh pelakor pacar teman.

Di Provinsi Papua Barat siswa sekolah tak cukup gizi, kampung dan sekolahnya sangat pedalaman. Di Nusa Tenggara Timur Flores Timur siswa bersekolah semangat, tetapi kondisi bangunan sekolahnya terbuat dari papan kayu yang umurnya puluhan tahun. Lagi-lagi, di Provinsi DKI Jakarta anak sekolah seringkali terlibat tawuran, hingga menyebabkan kematian.

Etika seronok pelajar sudah tak bisa dikendalikan. Harusnya negara hadir untuk menyelsaikan banyak masalah yang ada.

Wahai Raja Di Kursi Merah

Para pimpinan organisasi yang menyebut dirinya aktivis. Dulu pandai jual ide dan realisasikan gerakan. Sekarang, pandai berdebat di group WA, Line, Facebook, Instagram, Twitter dan lain sebagainya. Aktivis hanya mampu memikirkan rakyat di dunia maya, belum mampu menunjukkan dirinya untuk turun ke kampung-kampung / desa-desa untuk membela rakyat.

Berdebat soal visi misi pemimpin dimedia sosial untuk pengaruhi perasaan dan cara baca netizen. Tetapi, belum mampu diaplikasikan pada basis masyarakat. Sekarang pandai jual ide.

Aktivitas aktivis sekarang, tak lebih bangun tidur dan ngopi tidur lagi hanya di group wa-wa. Mereka tak lagi mencerminkan nilai masyarakat. Mereka hanya mampu eksploitasi perasaan tertindas rakyat untuk pembenaran nilai kemenangannya.

Wahai Raja Di Kursi Merah

Dinamika ormas sejak pra kemerdekaan hingga merdeka terus menjadi sorotan. Sejarah mencatat yang paling santer adalah ormas Islam yang terjajah dinegeri mayoritas Islam. Setiap periode pemerintahan, Undang-undang ormas sala satu agenda penting sehingga setiap saat bongkar pasang undang-undang ormas itu.

Produknya pun tak tanggung-tanggung yakni tidak menyelsaikan masalah, masalah membuat keresahan perasaan masyarakat. Undang-undang bisa dikatakan “kepentingan setiap rezim”, sehingga mudah otak atik sana sini. Seharusnya UU diproduksi secara equal tanpa diskriminasi.

Wahai Raja Di Kursi Merah

Impor beras untuk negara lumbung padi. Impor ikan asin untuk bangsa yang lautnya puluhan jutaan kilometer garis pantainya. Impor bawang untuk negara yang produksi bawang 1 juta ton setiap hari diwilayah timur, barat, tengah dan utara Indonesia. Impor jagung untuk negara yang produksi jagung ratusan ribu ton setiap musim. Impor kedelai untuk petani dinegara yang kedelainya ratusan ribu ton setiap musim. Impor cabai untuk negara yang lahan petani-nya luas bahkan tak mampu dimanfaatkan.

Impor bahan plastik untuk industri din negara penghasil sampah terbesar di dunia. Impor bahan pangan (jeruk, apel, buah naga, pir) untuk negara yang lahannya luas tak mampu ditanami bahan pangan saking luasnya. Lebih tragis lagi, impor tenaga kerja hingga jutaan untuk negara yang dipenuhi pengangguran.

Impor obat-obatan untuk rakyat suatu negara yang senang sakit. Impor rokok untuk negara yang rakyatnya senang merokok, padahal pemilik rokok tidak merokok. Impor bahan telur ayam bebek angsa untuk negara yang sangat banyak ayam bebek angsanya.

Impor demokrasi sistem negaranya untuk rakyat yang senang kegaduhan. Impor sapi untuk negara yang pejabatnya senang korupsi harga sapi. Impor ideologi negara mulai dari komunis, kapitalis, neolib hingga sekular untuk rakyat suatu negara yang kehendali pancasila dan mayoritas agama-agama.

Lalu orisinalitas bangsa ini dimana? siapakah yang bela rakyat? rakyat sesuangguhnya butuh siapa?.[]