Solilokui Berikutnya

Oleh: Taufan S. Chandranegara, praktisi seni, penulis.

Apakah makhluk kata-kata ada bersama di antara kehidupan budaya lampau hingga terkini. Seperti apa wujudnya. Ada atau tidak pun tak tahu. Lantas kalau memang benar ada.; Biarkan saja. Dilarang saling mengganggu sekalipun satu guru satu ilmu. Apakah termasuk jenis makhluk sel tunggal atau jamak. Terserah saja.

Bayangan maut gigantik melebihi besar dari objek aslinya. Waduh! Itu artinya ada horor siang malam. Nah itu. Mencoba memahami menyoal hal itu. Tak seharusnya diam saja. Tak perlu merespon pendapat? Tak apa-apa santai saja. Khawatir jadi tabu. Ternyata saling berteriak salah satu cara berkomunkasi.

Kurang lebihnya seratus persen benar, mungkin. Menjadi part behind the story. Cuss! Benar sekali kalau ternyata lumayan cerdas piawai bernas ba be bo. Oh! Jangan memandang laiknya pelaku dari pandangan itu loh. Maaf, tuduhan tidak mendasar sekalipun mengacu pada psysichoanalytic frame of reference.

Jangan memakai istilah bahasa meninggikan diri, akan terlihat tong kosong bunyinya nyaring sekali. Tawadduk, mungkin lebih baik untuk kemaslahatan kesehatan bersama. Oh! Tak boleh menjadi arogansi kepribadian di antara suara aum harimau. Begitulah kira-kira. Wow! Santai. Tolong tak menduga seperti apapun.

Begini ya kawan.; Kalau ada sumur di ladangmu bolelah menumpang mandi. Eit! Tidak boleh. Tidak bisa. Cerminan itu telah mengecilkan kata-kata dengan bayang-bayang gigantik dari tubuh sebagai objek, meski bukan pelengkap penderita. Hihihi! Akhirnya memandang materi sebagai subjek dialogis di antara naturalisme.

Hahaha! Itu hebatnya dramatisasi prosa panggung sandiwara. Tanpa terasa mencabik secara impresionistis di luar tabulasi jurnal ekspresionistis, di antara term of reference dari realisme sekaligus menentang kubisme, sehingga tak menemukan jawaban pada ranah realisme simbolis ataupun niskala ketentuan dadaisme.

Hohoho! Mural sekali. Sekalipun tak masuk ranah akal sehat; gemar sekali berseloroh menjungkirbalikkan pisang goreng rasa coklat menjadi roti panggang asam manis, itu milik bumbu masak sayur asem; tak peduli sekalipun batuk rejan  menyerang diri. Hah! Itu kepiawaian membolak balik menu makanan makhluk anonim. Cuss!

***

Jakartasatu, June 24, 2024.

Salam NKRI Pancasila. Banyak kebaikan setiap hari.