Kasus Kebocoran PDN Drama di Luar Nalar, Ridho Rachmadi: Sebuah  Akhir Atau Baru Awal

JAKARTASATU.COM Ketua Umum Partai Ummat  Ridho Rachmadi mengatakan Kasus Pusat Data Nasional (PDN), sebuah akhir atau malah baru sebuah awalan. Sebagai bangsa kita harus membangun kedaulatan digital dan bersiap terhadap serangan siber. Hal itu disampaikan di akun X-nya, Kamis, 4/7/2024.

Setelah kita ketahui bahwa Brain Spier telah memberikan kunci (dekripsi) untuk membuka data yang ada di Pusat Data Nasional yang telah meraka enkripsi.

“Perlu diingat bahwa motivasi serangan ransomware di belahan dunia manapun itu adalah ransome (tebusan) dan bukan donasi,” kata Ridho.

“Sekali lagi jika kemudian mereka berbalik malah memberikan kunci (dekripsi)  secara cuma-cuma dan malah membuka pintu donasi. Ini adalah sebuah drama yang terlalu jauh di luar nalar,” tambahnya.

Doktor bidang Data Science dan Machine ini mengajak untuk menganalisis pernyataan Brain Chiper

“Mari kita perhatikan pernyataan Brain Chiper dalam dua hari ini. Mereka mengatakan bahwa serangan ini adalah semata-mata test untuk menguji keamanan PDN dan tidak ada muatan politik di baliknya,” jelas Ridho.

Ia kemukakan, mereka kemudian meminta maaf kepada seluruh rakyat Indonesia. Kemudian mereka mengatakan keputusan untuk memberikan kunci (dekripsi) secara free  ini adalah keputusan yang independen tanpa ada intervensi.

“Sekarang perhatikan muatan politik, kemudian meminta maaf tidak ada intervensi, ini independen,” kata Ridho.

“Adakah kita bertanya ?  Pertanyaan mereka yang menjawab sesuatu yang  tidak kita tanyakan,” tukasnya.

Ia tegaskan justru ini semakin meyakinkan kita bahwa serangan tersebut adalah sebuah pesanan yang jelas tidak independen dan bermuatan politik.

Meminjam perkataan yang viral kemarin, “come on man cut that stupid shi**”, akhiri drama ini.

“Mari kita menjadi rakyat yang cerdas dengan tidak mempercayai itu semua,” ajak Ridho.

Brain chiper siapapun mereka itu telah menerima bayaran dari sebuah kelompok elit yang punya kekuatan politik dan financial yang ingin menghilangkan data-data tertentu.

“Kelompok elit ini tidak melibatkan  Kominfo, BSSN, Telkom dan lain-lain  secara lembaga tapi secara personal. Ini sangat mungkin terjadi,” tandasnya.

“Saya sangat berharap ada perubahan mendasar dan revolusioner dalam tubuh Kominfo dan BSSN karena mereka adalah garda terdepan dalam menjaga kedaulatan digital,” ungkap Ridho.

Ia menegaskan, ingat di luar kasus PDN ini ada banyak data-data pemerintahan yang penting sekali yang telah dicuri yang dijual di forum-forum yang ada di internet secara bebas.

Sebagai penutup dan contoh kecil ini adalah sebuah cuplikan

“Bagaimana tim kami di sini berhasil masuk dan menguasai website pemerintahan hanya dalam waktu sekitar 2 menit saja. Test penetrasi ini semata untuk menyadarkan kita semua khususnya pemerintah akan pentingnya mengantisipasi serangan Cyber dan juga untuk menyadarkan kita semua pentingnya membangun kedaulatan digital,” tutur Ridho.

Kami membuat test ini pada tengah malam sehingga tidak menganggu aktivitas daripada website tersebut. Kami juga tidak mengambil apapun. Setelah menguasai 5 menit website ini,  kami mengembalikan secara penuh dan utuh website ini seperti sedia kala.

“Sekarang bayangkan jika yang melakukan  ini adalah orang-orang dengan motif jahat. Sekian, wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,” pungkasnya. (Yoss)