Biogenesis

Oleh: Taufan S. Chandranegara, praktisi seni, penulis

Daun gugur lazim di mata semesta. Nurani ngawang tanpa langit, angkasa bolong. Kosong tak sebanding paradikma nilai apapun. Tak terhitung frekuensi tak serupa apapun. Inteligensi norma automatisasi moral warna-warni sejak awal mula. Kalau semesta merubah garis edar para planet. Bumi meledak deh. “Glar!”

Unsur hidup menyala seketika hari baik temu sperma. Tumbuh kehidupan alam plasenta niskala semesta dunia rahim. Materi terlihat di batas pemandangan dari isu logika ranah hidup. Kata sebatas nalar komunikasi lompatan subjektif. Tontonan sains terbatas pustaka inteligensi zaman berubah-materi.

Jangan berandai-andai takkan serupa apapun. Kalau pun tampak dari jendela hari-hari berlari. Rekaan rekam pikiran sebatas mata mencapai horizon garis gaib alam raya, konon. Panorama rekayasa sains, terbatas pada permukaan frekuensi, beriringan gravitasi, itupun kalau benar begitu.

Sains tingkat dunia boleh saja euforia menemukan berbagai keajaiban alam raya segala warna wujudnya. Mungkin hanya capaian sains sepersekian persen dari sebiji debu; itupun sekadar dugaan perumpamaan pandangan imajiner. Realitas senantiasa merekam sejumlah makna di sel otak makhluk hidup.

Makhluk hidup materi bergerak berdetak dag dig dug. Jantung mati selesai seketika hidup. Putaran semesta stabil sejauh mata memandang inheren makhluk hidup. Kala hidup terbatas selaras perubahan waktu. Bergulir berabad-abad dimensi niskala campursari multi anonim. Tak semua misteri bisa terlacak sains. Ehem.

Pikiran baik sugesti logika baik. Benar-salah garis horizontal mungkin bergerak berputar simultan seiring garis vertikal. Berubah-ubah mencipta curva horizon. Diagonal logika poros semesta berputar. Darah mengalir tubuh hidup sesuai takdir jalur anatomi jalan darah perdetik waktu.

Apa kan terjadi; apabila anggota tubuh makhluk hidup bisa dicopot pasang laiknya robot-robotan. Barangkali semesta tak serupa kini. Mungkin pula akan menjadi jagat robot gigantik. Senjata perang efektif tanpa cinta ataupun kasih sayang. Perang berlangsung sepanjang abad kehidupan bimasakti. Glarr!

“Masih ada perang?”

“Oh! Hipokrisi?”

Peperangan, salah satunya akibat pola struktural oligarki plus oportunis di dalam kekuasaan dimanapun di dunia, all in one perangkat hipokrisi tanpa kecuali. Kekecewaan terhadap kekuasaan model begitu memicu lahirnya terorisme dunia, korupsi, salah guna wewenang sembunyi di laci-laci kuasa usaha.

Dunia memerlukan penyelenggara negara berkomitmen kemanusiaan, penyadaran kekuasaan bening damai terbuka demi keyakinan keimanan; akan berhadapan dengan kaum anonim, akan menjadi tugas terberat insan kamil melawan kejahatan amoral dengan berbagai bentuk adaptif tampilannya.

Korupsi plus judi online misalnya, belum tuntas di berantas oleh aparatur negara tanpa kecuali sebagaimana seharusnya sebuah negeri membasmi amoral.

***

Jakartasatu, Juli 05, 2024.

Salam NKRI Pancasila. Banyak kebaikan setiap hari.