BUKAN MAU MEMBANDINGKAN KARYA TEATER PAYUNG HITAM & KARYA LUKISAN YOS SUPRAPTO
CATATAN AENDRA MEDITA*)
DALAM kritik seni saya berpikir apa saat ini pemikiran karya kritis yang kuat telah menjadi korban simplifikasi di era modern? Lalu apakah Kritik sudah mati “Mati dalam Bisingnya di Dunia Modern? Atau Kritik yang saat ini hilang dari akal sehat? hanya sampai ke medsos, lalu setelah itu hilang?
Muncullah pertanyaan saya siapa yang Membunuh Kritik? Jika kita mengupas konteks sosial-politik-budaya yang membuat kritik apa menjadi berbahaya atau tidak relevan. Umumnya kritik itu sangat kuat dari kalangan seniman kini sedang krisis kritik, nah saya mengira pada saat ini, ketakutan kolektif, kritik yang ditekan melalui kekuatan negara, agama, atau sosial budaya. Maka jika ini terjadi akan muncullah kapitalisme dan kritik palsu yaitu kritik diubah menjadi alat pemasaran dan hiburan semata. Jika yang setuju silakan komentar dan jika yang tak setuju juga tak apa-apa?
Jika menyebut “Kritik Sudah Mati” adalah pernyataan yang mengundang refleksi mendalam. Saya melihat persoalan dari berbagai beberapa sudut pandang yang bisa hal ini dieksplorasi dalam konteks Sosial dan Politik bahkan Budaya. Respon saat waktu lalu lukisan karya Yos Suprtapto merupakan seorang Seniman yang baru-baru ini menggelar pameran lukisan bertajuk ‘Kebangkitan: Tanah untuk Kedaulatan Pangan” di Galeri Nasional Indonesia” gagal digelar, tapi jadi viral mendunia.
Ini pintu gerbang masuk ruang Studio Teater yang akan jadi tempat pentas Teater Payung Hitam “Wawancara dengan Mulyono” digembok/ ist
Nah semalam satu pementasan teater di Bandung, di kampus seni, gagal juga di sajikan. Karena Gedungnya digembok.
Nah judul diatas bukan mau membandingkan kasus dan menyamakan, tapi dimana hal Kritik seni dan Seni kritik merupakan dua cara pandang untuk memaknai karya seni kini bergeser makin jauh.
Dua cara yang sering dicampur adukan dalam perdebatan tentang sebuah karya; para seniman dan kurator acapkali bersikukuh pada posisinya, untuk membenarkan cara pandang yang membingkainya itulah kasus Karya Yos. Di dunia seni rupa Indonesia, ada beberapa seniman dari Yogyakarta yang pernah mengalami pelarangan karya mereka dalam pameran, terutama karena dianggap mengandung kritik sosial atau politik yang tajam. Beberapa seniman yang dikenal dengan karya provokatif berasal dari komunitas seniatau individu yang memiliki pendekatan subversif dalam berkarya.
Karya teater Payung Hitam Sang Sutradara Rahman Sabur dan Yos Lukisan memiliki jejak yang masing-masing punya nilai dalam konteks seni dan pergerakan budaya.
Payung Hitam dikenal sebagai kelompok teater yang lahir di Bandung, yang sering mengusung tema sosial dan politik dalam pertunjukannya. Mereka memiliki kedekatan dengan kampus seni seperti ISBI Bandung (dulu STSI) karena banyak anggotanya berasal dari lingkungan akademik seni, termasuk ISBI. Kelompok Payung Hitam juga kerap tampil dengan gaya eksperimental yang menantang batas teater konvensional dan ini jadi tolak ukur karya menarik dan kuat. Bahkan Teater Payung Hitam ini sudah keliling dunia.
ISBI Bandung sendiri telah menjadi pusat penting bagi perkembangan seni pertunjukan di Indonesia. Dengan adanya kelompok seperti Payung Hitam dan senimannya ekosistem seni di Bandung tetap dinamis dan terus berkembang. Lantas kenapa ISBI Bandung mengunci ruang Studio untuk pentas Teater Payung Hitam?
POSTER: Baliho yang dicopot sudah 2 X Baliho pertunjukan Teater Payung Hitam “Wawancara dengan Mulyono” diturunkan pimpinan lembaga isbi. Kini berikutnya pintu studio Teater digembok/ist
Jika gedung Payung Hitam digembok, ini bisa jadi bagian dari tekanan terhadap kelompok teater yang memiliki rekam jejak kritik sosial yang tajam. Payung Hitam, yang didirikan oleh Rachman Sabur, memang dikenal sebagai teater eksperimental yang sering membahas isu-isu sosial, politik, dan kemanusiaan secara frontal.
Jika ada pelarangan atau penggembokan gedung mereka, kemungkinan besar itu terjadi dalam konteks pembungkaman ekspresi seni. Ini bukan pertama kali terjadi dalam dunia seni di Indonesia, di mana kelompok atau individu seniman yang vokal bisa menghadapi pembatasan ruang gerak, baik melalui pelarangan pentas, pembatalan pameran, atau bahkan tekanan administratif seperti penggembokan tempat berkarya.
Kasus Yos di Galnas yang masih hangat dan kasus Payung Hitam yang akan mentaskan “Wawancara engen Mulyono” ini gagal tersaji karean digembok. Bisa jadi ini bagian dari upaya lebih besar untuk membatasi ekspresi seni yang dianggap “berbahaya” oleh pihak tertentu. Tapi siapa yang bertanggung jawab kini tak ada yang bicara pihat yang mengembok itu?
Pergelaran pentas seni teater Payung Hitam dilarang pentas oleh Kampus Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Kota Bandung. Ini sebuah ironi jika akan terjadi. Pertunjukan teater bertajuk “Wawancara dengan Mulyono” setidaknya itu akan digelar di Studio Teater ISBI Bandung, Sabtu-Minggu (15-16/02/2025) malam. Tak terjadi. Absurd memang, karena sebelumnya baliho pertunjukan teater Payung Hitam Wawancara dengan Mulyono itu dipasang Rabu, 12/2/25 namun pada Kamis pagi, 13 Februari 2025, baliho berukuran 3×4 meter itu dicopot dan ditahan pihak lembaga (kampus ISBI).
Sang Sutradara menyebutkan, saat ini tempat kok di gembok. “Sebut Dugaan ini Pertunjukan Payung Hitam Wawancara dengan Mulyono tidak boleh digelar. Kali ini Ini baru kali ini saya tak paham. Kalau saya minta surat pernyataan tertulis atas larangan pencabutan Baliho saja tak pernah dapat,” ungkap Dr Rachman Sabur kepada yang dikutik SENI.CO.ID, Sabtu (15/2/2025).
Lantas bagaimana saat ini Bu Rektor ISBI apakabar? Jika komunikai tak baik Akan ada satu pandangan bahwa seni harus tumbuh dari keragaman, bukan dipaksa dalam satu bentuk. Janganlah tatanan lama yang membelenggu seni dipelihara. Waktu telah berlalu, keadaan berubah. Lagian kekuasaan untuk menentukan arah kebijakan seni di lembaga kini kan puncuk paling atas sudah ganti?.