Kode Isyarat
Kode Isyarat "Time for Change" Anies Baswedan | ISTAnies

“Time For Change” Kecerdasan Kode Bahasa Isyarat Anies Baswedan di Final Debat Capres 2024 

Oleh: WA Wicaksono
Storyteller, Analis Iklan dan Pencitraan
Pilpres 2024 telah memasuki babak akhir, dan debat terakhir antara para calon presiden kembali dihelat oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU). Salah satu momen yang sangat menarik dan mencuri perhatian adalah saat Anies Baswedan, menyampaikan pernyataan awalnya dengan sebuah gerakan tangan yang diartikan oleh banyak kalangan sebagai sebuah kode tegas, yakni “Time for Change”.
Dalam pembukaannya, Anies Baswedan secara tiba-tiba menunjuk arloji yang terdapat di tangannya, kemudian menggerakkan kedua tangannya seolah-olah memutar sesuatu. Gestur ini mungkin terlihat sepele, namun jika dianalisis lebih dalam, gerakan tersebut menjadi titik fokus perbincangan banyak pihak.
Sebagai seorang calon pemimpin, Anies Baswedan telah dikenal sebagai sosok yang cerdas dan memiliki kepiawaian dalam berkomunikasi. Gestur yang sederhana seperti menunjuk arloji di tangannya, kemudian memperagakan gerakan seolah-olah memutarnya, ternyata memiliki makna tersendiri yang diartikan oleh khalayak sebagai “Time for Change” atau waktu untuk perubahan.
Anies Baswedan, dalam beberapa kesempatan sebelumnya, telah menggarisbawahi pentingnya perubahan dalam membangun masa depan Indonesia. Gerakan memutar arloji tersebut dapat diartikan sebagai simbol perubahan waktu atau pergeseran paradigma dalam kepemimpinan.
Pilihan untuk menyampaikan pesan melalui kode semacam ini tidaklah baru dalam dunia politik. Pemimpin seringkali menggunakan bahasa simbolis atau gestur untuk menyampaikan pesan tertentu kepada khalayak, terutama jika mereka ingin menekankan suatu agenda atau tema tertentu.
“Time for Change” yang diungkapkan melalui gestur Anies Baswedan mencerminkan keyakinannya bahwa saatnya bagi Indonesia untuk mengalami perubahan yang lebih baik. Pesan ini sejalan dengan visi dan misinya sebagai calon presiden, yang telah dijelaskan dalam berbagai kampanyenya.
Namun, tentu saja, penting untuk diingat bahwa penafsiran terhadap gestur atau kode semacam ini dapat bervariasi di antara masyarakat. Beberapa mungkin meresponnya dengan antusiasme, sementara yang lain mungkin merasa skeptis atau bahkan tidak memahami maksudnya.
Dalam era informasi dan komunikasi saat ini, setiap tindakan atau perkataan seorang calon pemimpin dapat dianalisis secara mendalam. Oleh karena itu, gestur “Time for Change” dari Anies Baswedan menjadi bahan diskusi yang menarik dan mengundang perhatian.
Seiring berjalannya waktu, apakah gestur ini akan menjadi momen krusial dalam perjalanan kampanye Anies Baswedan atau hanya sebagai episode menarik semata, adalah hal yang akan diungkapkan oleh perjalanan pilpres itu sendiri. Masyarakat akan menjadi hakim sejati untuk menentukan apakah saatnya benar-benar “Time for Change” di Indonesia. Tabik.