Lelakon
Oleh Taufan S. Chandranegara, praktisi seni, penulis.
Perjalanan memetakan hidup, bukan nasib. Kalau memetakan nasib itu artinya perlawanan terhadap hukum Ilahiah. Mencoba menolak hal ihwal karunia Ilahi.
Kesadaran transendental berada senapas pada setiap helaan napas; oksigen karunia ketetapan Sains Ilahi, di jaga oleh gravitasi dan frekuensi, tak terbantahkan.
Maka hadirlah di dalam rumah ibadah, siapapun anda bersimpuh bersujud setara tak ada perbedaan di hadapan Tuhan-mu. Melaksanakan kewajiban sebagaimana telah ditasbihkan. Berkumandang Azan serentak seluruh dunia, selama lima waktu, setiap hari, kepastian hukum tetap Keilahian.
Tak ada paksaan, hanya melaksanakan kewajiban ikhlas bersujud pada Tuhan-mu, melaksanakan Keimanan-Nya, sebagaimana telah ditentukan oleh kepastian hukum telah ditetapkan-Nya. Itu sebabnya pula kewajiban Keimanan kepada Tuhan-mu, menjauhi dunia musrik ataupun pemberhalaan kebendaan bersifat mistik lelembut; hanyalah kekuatan dalam kepalsuan duniawi.
Kematian salah satu kewajiban kehidupan, sebagaimana kelahiran melaksanakan kehidupan keimanan.; Kalau mau menjadi manusia sebening iman tetes embun kepada bumi. Sebagaimana sebuah perumpamaan,; Seorang aktor berkewajiban memahami anatomi panggung tak sekadar menghapal teks lantas memainkannya bak robot kesiangan bangun. Keaktoran tak sekadar memainkan peranan lantas berakting tralala bla bla. Seyogianya si aktor memiliki keimanan keaktoran sebagai dasar lelakon dramaturgi kehidupan kesandiwaraan di atas panggung prosenium ataupun arena. Alam semesta panggung universal diciptakan untuk kehidupan para planet, di dalam setiap planet memiliki kehidupannya masing-masing.
Salah satunya planet bumi, dihuni oleh makhluk ciptaan Ilahi, dari jasad renik hingga kemodernan kehidupan makhluk bernama manusia; berinteligensi sempurna sebagai makhluk ciptaan-Nya. Manusia sebagai petugas kehidupan, bertanggung jawab pada segala bentuk perilaku, secara individual maupun kelompok-kelompoknya. Itu sebabnya pula dilarang oportunis ataupun rasis.
Bermata biru maupun coklat suatu pelajaran kecerdasan melaksanakan hakikat kehidupan Keilahian.
* Jakartasatu Indonesia, Januari 22, 2025. Salam NKRI Pancasila. Banyak kebaikan setiap hari.