“America First” di Timur Tengah ala Trump
Oleh Smith Alhadar
Penasihat Indonesian Society for Middle East Studies
Gencatan senjata tiga fase Hamas-Israel telah di capai pada 15 Januari 2025. Langkah awal implemen tasinya berupa pertukaran san dera Yahudi dan tahanan Pa lestina, penarikan militer Israel (IDF) dari permukiman padat penduduk di Gaza, dan ma- suknya bantuan PBB dalam jumlah besar pun telah dimu lai.
Palestina dan dunia me nyambut gembira bercampur kecemasan karena semua be lum tentu berjalan mulus. PM Israel Benjamin Netanyahu menyatakan Israel akan kem- bali menyerang Gaza guna menghancurkan Hamas seusai pembebasan 34 sandera Yahudi di fase awal.
Kendati itu sulit dilakukan karena masih tersisa 60-an lagi sandera yang baru akan dibe baskan pada fase kedua, ada dua hal yang memungkinkan an- caman Netanyahu diwujudkan.
Pertama, tak ada kesepakatan tertulis yang menghalangi Is rael melakukannya. Kedua, Netanyahu hendak memper tahankan pemerintahan koali sinya yang terancam ambruk karena dua partai ultrakanan mengancam mundur dari ko alisi jika ia tak melanjutkan perang setelah fase pertama terlampaui.
Untuk memastikan Hamas dan Israel taat pada gencatan senjata yang rentan, Presiden AS Donald Trump menugaskan utusan khususnya untuk Tim teng, Steve Witkoff, “tinggal” di kawasan bergejolak itu. Witkoff mengungkapkan kekhawatirannya kelompok-kelompok ekstrem Palestina dan Israel akan membayarkan kesepakatan ini.
Sesungguhnya, yang dimaksud Witkoff adalah kelompok ekstrem bersenjata Yahudi yang kecewa atas gencatan senjata itu. Padahal, cita-cita Zionisme adalah menguneksai seluruh wilayah Palestina. Celakanya, Trump mendukung klaim ini.
Sehari setelah menduduki Gedung Putih, Trump mem batalkan sanksi yang diberłakukan Presiden Joe Biden ter hadap kelompok dan individu-individu ekstrem Yahudi yang menyerang dan merampas tanah-tanah Palestina di Tepi Barat.
Sehari sebelumnya, 20 Januari, The Jerusalem Post mengutip pernyataan Witkoff, AS mempertimbangkan akan me relokasi “sementara dua juta warga Gaza ke Indonesia.
Kendati gagasan ini hampir mustahil bisa diimplementasi kan, kebijakan Trump meng- indikasikan AS tidak berniat memerdekakan Palestina. Pe rampasan tanah di Tepi Barat dan pengosongan Gaza bertu juan melenyapkan relevansi berdirinya negara Palestina.
Visi Trump Dan Perpecahan Arab
Pascaperang Gaza, Biden mendukung Otoritas Palestina (OP) pimpinan Mahmoud Ab bas mengambilalih Gaza. Sejauh ini baru Qatar yang terang- terangan mendukung sikap Bi den. Sementara Uni Emirat Arab (UEA) menyodorkan Mo hammad Dahlan asal Gaza yang mengasingkan diri di UEA-se telah terdepak dari OP karena berselisih dengan Abbas-me- mimpin pemerintahan Gaza,
Pemerintahan Dahlan diharapkan didukung pasukan Arab dan PBB, tetapi dua gagasan ini ditolak Netanyahu dan belum tentu juga disetujui Hamas.
Menurut Sami al-Arian, Direktur Center for Islam and Global Affairs pada Universitas Zaim Istanbul, Netanyahu ha- nya akan menyetujui penga khiran perang di Gaza jika Trump mendukung aneksasi Is rael atas 40-60 persen wilayah Tepi Barat, menyetujui target Israel di Suriah, dan AS me lakukan sesuatu terhadap nuklir Iran (Al Jazeera, 5/1/2025).
Konsep “Kesepakatan Abad Ini” yang diluncurkan Trump di periode pertama pemerintahannya (2017-2021) lebih bisa diterima Netanyahu, antara lain karena tidak menjanjikan negara Palestina dan sebagian Tepi Barat dianeksasi Israel.
“Kesepakatan Abad Ini serta merta ditolak Palestina. Abbas menyebutnya sebagai “Tamparan Abad ini. Bagai manapun, Trump akan memak- sakan kembali konsep ini. Untuk berhasil, ia akan mendekati Arab Saudi
Sebelum serangan Hamas 7 Oktober 2023, negosiasi nor malisasi hubungan Saudi-Israel telah memasuki tahap final Kompensasi yang didapat Ri- yadh: AS membuat pakta pertahanan dengannya, mengizin kan Saudi memiliki reaktor nuklir, dan AS memasok persenjataan canggih. Tawaran ini tentu menggiurkan Saudi Trump akan melanjutkan upa ya Biden disertai tekanan atas Saudi
Normalisasi Saudi-Israel dipandang Trump akan menyele saikan isu Palestina untuk sela manya. Saudi adalah kekuatan dominan di kawasan. Pada momen ini sangat sulit bagi Riyadh memenuhi harapan Trump ka rena bertentangan dengan opini publiknya sendiri.
Berbeda dengan periode per tama pemerintahan Trump, isu Palestina kini telah menjadi isu sentral bangsa Arah, bahkan du nia. Genosida dan kejahatan pe- rang lainnya Israel di Gaza ter- lalu kejam untuk dibiarkan.
Two-state solution juga telah menjadi konsensus internasio nal. Agar gagasan Trump ber- hasil, Gaza harus dikosongkan “sementara” dengan alasan de mi kelancaran rekonstruksi Gaza. Tujuan sesungguhnya ada lah melenyapkan Hamas yang telah “memenangi perang
Relokasi warga Gaza ke tempat yang jauh, di luar Timteng akan menghilangkan sorotan dunia atas masalah penderitaan Palestina. Sebaliknya, rekon struksi Gaza akan menghadirkan wajah humanisme Israel, AS, dan Arab Kondisi ini di harapkan membuka pintu bagi Saudi untuk normalisasi hu- bungan dengan Israel, yang akan diikuti negara Arab lain.
Suriah dan Iran
Namun, penyelesaian isu Palestina belum cukup bagi Netanyahu dan Trump. Masih ada Suriah dan Iran. Dulu, Trump juga mengakui Dataran Tinggi Golan milik Suriah-yang di caplok Israel dalam perang 1967-sebagai milik Israel
Menyusul jatuhnya rezim Bashar al-Assad, Israel meluaskan pencaplokan Golan dengan menduduki zona demiliterisasi yang tadinya dijaga pasukan perdamaian PBB, hingga ke Gunung Hermon. Jika sebelumnya jarak Golan-Damaskus 60 kilo meter (km), kini hanya 20 km.
Sementara pemerintahan Suriah ke depan akan bercorak islamis yang ditakuti Israel.
Di luar itu, Israel menolak peran dominan Turki di Suriah yang memiliki tentara di sana guna menggempur Unit Mobili sasi Rakyat (YPG) Kurdistan, faksi terbesar di Front Demo kratis Suriah (SDF) dukungan AS YPG dituduh berafiliasi de- ngan Partai Pekerja Kurdistan dan sejak 1984 mengangkat senjata melawan Ankara.
SDF dibentuk dan didanai AS untuk memerangi Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS) sejak 2014. SDF menguasai wilayah timur laut, yang merupakan se- pertiga dari total teritori Suriah dan menguasai ladang minyak di sana. Dus. Trump akan menggunakan pengaruhnya untuk mendukung aneksasi Israel atas teritori Suriah.
Hal lain yang diinginkan Netanyahu adalah AS ikut menyerang situs nuklir Iran. Pada 2018, Trump secara sepihak menarik diri dari kesepakatan nuklir Iran (JCPOA), yang diikuti tekanan maksimum.
Trump dan Netanyahu menganggap JCPOA terlalu menguntungkan Iran. JCPOA mengharuskan Iran membatasi program nuklirnya dengan im- balan ia bebas menjual minyak nya ke pasar global. Setelah “poros perlawanan” bentukan Iran dikerdilkan, menyusul dilemahkannya Hizbullah dan Hamas serta runtuhnya Assad, Neta nyahu melihatnya sebagai ke sempatan menghancurkan re- zim Iran.
Tentu Trump akan melakukan sesuatu terhadap Iran, tetapi bokan menyerang situs nuklirnya karena itu akan me ngobarkan perang di Teluk. Trump melihat lemahnya Iran saat ini peluang untuk menyelesaikan isu nuklirnya melalui perundingan dengan syarat yang ditentukan Trump, yaitu menghentikan program nuklir dan rudal balistiknya, serta me narik diri dari Irak, Lebanon, dan Yaman. Akankah Trump berhasil membentuk Timteng Baru yang stabil? Sangat mungkin tidak.
Bangsa Arab tak akan mendukung kebijakan Trump terhadap Palestina Arab dan Turki pun tak akan membiarkan pen- caplokan wilayah Suriah oleh Israel. Untuk Iran, Trump tak punya daya tawar cukup untuk memaksakan Iran menerima syarat-syarat rekonsiliasi.
Sebaliknya, Iran bisa saja terdorong membuat senjata nuklir sebagai deterrence. Dus, Timteng bisa jadi akan kembali pa- nas. Memang kebijakan Ame rica First yang diterjemahkan menjadi Israel First bertentang- an dengan kepentingan AS.