Indonesia Gelap: Ketika Keadilan Redup, Budaya Dibungkam, dan Suara Rakyat Ditenggelamkan
Oleh: Aendra Medita *)
Indonesia hari ini bukan sekadar negeri yang kaya sumber daya dan penuh potensi. Ia juga menjadi panggung bagi berbagai ironi: hukum yang tumpul ke atas tapi tajam ke bawah, korupsi yang merajalela, demokrasi yang tergerus oligarki, budaya yang dikekang, serta rakyat kecil yang kian terpinggirkan. Inilah “Indonesia Gelap”, sebuah kenyataan yang tak bisa disembunyikan oleh jargon kemajuan atau pencitraan media makin membludak.
Hukum yang Mati di Tangan Penguasa
Jika hukum adalah cahaya yang menerangi keadilan, maka hari ini kita hidup dalam kegelapan. Berapa banyak kasus korupsi yang dibiarkan menggantung tanpa kepastian? Berapa banyak pelanggaran hak asasi manusia yang hanya menjadi arsip tanpa penyelesaian? Sementara itu, rakyat kecil yang bersalah karena mencuri makanan untuk bertahan hidup justru dengan cepat dijerat hukum.
Di Indonesia hari ini, mereka yang memiliki uang dan kuasa bisa menulis ulang hukum sesuai kepentingannya. Kasus besar seperti korupsi anggaran negara sering kali hanya berujung pada hukuman ringan, diskon masa tahanan, atau bahkan grasi. Sedangkan mereka yang kritis, baik jurnalis, aktivis, maupun akademisi, dipaksa bungkam melalui berbagai cara: tekanan hukum, ancaman, atau bahkan kekerasan. Belum lama kasus Timah korupsi yang Triliyunan, hanya beberapa tahun. Jika usia hukuman di bandingkan pasti disebanding dinegan usaha yang akan mengahsilan sekian T itu.
Ekonomi Dikuasai Oligarki
Indonesia gelap bukan hanya dalam politik, tapi juga dalam ekonomi. Siapa yang benar-benar menguasai negeri ini? Rakyat atau segelintir elite yang terus memperkaya diri? Kita menyaksikan kesenjangan yang semakin lebar, di mana konglomerat bisa menguasai lahan luas, sementara petani kecil harus berjuang hanya untuk sepetak tanah. Bahakan laut pun di pagar dan bersertifikat. Alasannya di cabut hanya gertak dan gimmick seakan kerja tapi ujungnya tak jadi alasan dibatalkan. Absurd memang. Dan itulah negeri kita saat ini.
Harga kebutuhan pokok meroket, tetapi upah buruh stagnan. Bahakan ratusan buruh kena PHK, Sektor industri didominasi modal asing, sementara UMKM—yang menjadi tulang punggung ekonomi—berjuang sendiri tanpa kebijakan yang benar-benar berpihak. Bansos pun tak jarang dijadikan alat politik, bukan solusi untuk rakyat yang benar-benar membutuhkan. Rakyat terus menjerit dan dan yang kuasa akandapat kekuatan tanpa harus diaudit dengan Danantara. Nikmatnya…
Demokrasi yang Dikunci, Media Dikendalikan
Indonesia pernah bangga dengan kebebasan pers dan demokrasi pasca-reformasi. Tapi kini, kita melihat banyak media besar yang berubah menjadi alat propaganda. Kritik terhadap pemerintah kerap dianggap sebagai ancaman, bukan sebagai bagian dari kebebasan berpendapat. atau untuk kemajunan kritik membangun. Media sosial, yang dulu menjadi tempat rakyat bersuara, kini diawasi ketat. Bahkan adanya buzzer bayar yang makin kaya dengan mendengung, Alih-alih mendengar aspirasi rakyat, mereka yang berkuasa justru lebih sibuk mencari cara membungkam kritik. Undang-undang ITE menjadi senjata ampuh untuk mengkriminalisasi mereka yang berani berbicara. Diadukan ke polisi.
Seni dan Budaya Dikekang
Indonesia adalah negeri yang kaya budaya, tetapi justru budaya dan seni kini menghadapi represi. Seniman yang kritis terhadap kondisi sosial dianggap sebagai ancaman. Teater di Bandung digembok dan di bungkam tak boleh mentas, padahal di kampus yang mana sutradara pernah mengabdi sebagai pengajar disana 34 tahan. sebelumnya lukisan di Galeri Nasional dibungkam juga. Musik yang menkritik polisi voaklisnya di pecata sbeaia guru, dan yang menyuarakan kegelisahan rakyat sering kali dibatasi atau bahkan dilarang.
Dulu, seni adalah alat perlawanan. Chairil Anwar, Rendra, Wiji Thukul, dan banyak lainnya menggunakan kata-kata mereka untuk menyuarakan kebenaran. Tapi kini, seniman yang berani melawan arus justru dianggap subversif. Pameran bisa dibatalkan, pertunjukan bisa dilarang, bahkan mural bisa dihapus hanya karena dianggap mengganggu stabilitas kekuasaan.
Ironisnya, seni yang menyanjung penguasa justru didukung dengan segala fasilitas. Inilah yang membuat budaya kehilangan daya kritisnya. Seni dijinakkan, dijadikan hiburan kosong yang hanya menyenangkan, bukan yang mempertanyakan.
Ke Mana Cahaya Harapan?
Di tengah semua kegelapan ini, apakah Indonesia masih punya harapan? Jawabannya ada pada kita semua. Jika kita terus diam, gelap akan semakin pekat. Tapi jika kita terus bersuara, sekecil apa pun, kita masih bisa menyalakan kembali cahaya keadilan, demokrasi, dan kebebasan berekspresi.
Indonesia gelap bukan sekadar metafora, tetapi cerminan realitas yang harus dihadapi dengan keberanian. Sebab sejarah menunjukkan, kegelapan tidak akan bertahan selamanya. Akan ada saatnya fajar menyingsing, asal kita tidak berhenti berjuang. Ayo….!!!
*) penulis adalah pencinta sosial dan budaya di FSBI.
Jagakarsa, Jakarta Selatan, 2 maret 2025