Kandasnya Strategi Sentripetal Prabowo dan Bayang-bayang Indonesia Gelap
Oleh Buni Yani
Harapan membuncah melihat perjalanan Presiden Prabowo ke luar negeri yang disambut dengan upacara kenegaraan yang megah dan terhormat. Media melaporkan Prabowo mendapatkan perlakuan istimewa dari sejumlah kepala negara yang membuat kebanggaan di tanah air tambah besar. Seolah Prabowo yang fasih Bahasa Inggris itu kini merestorasi rasa percaya diri bangsa Indonesia setelah dipermalukan oleh Jokowi selama 10 tahun yang saban hari dihina kemampuan Bahasa Inggris-nya oleh warganet.
Perjalanan diplomasi ke luar negeri dipilih Prabowo tak lama setelah pelantikannya sebagai Presiden RI ke-8 pada 20 Oktober 2024. Pilihan strategi ini sama sekali tidak mengejutkan karena Prabowo selama ini dikenal sudah akrab dengan masalah-masalah internasional dan selalu berpandangan keluar—outward looking. Ini tak terlepas dari latar belakang Prabowo yang bahkan telah mengenyam pendidikan tingkat menengah dan atas di Eropa.
Negara pertama yang dikunjungi Prabowo adalah Cina, suatu gestur politik yang menunjukkan kebijakan luar negerinya tidak akan berubah jauh dari kebijakan Jokowi yang sangat dekat dengan Cina. Setelah Cina, Prabowo melanjutkan perjalanannya ke Amerika Serikat, negara adi daya saingan terbesar Cina yang selama ini menjadi sahabat baik Indonesia. Setelah dari AS, Prabowo melanjutkan lawatan ke Peru, Brazil dan Inggris.
Setelah itu Prabowo melanjutkan diplomasinya ke negara-negara sahabat di Timur Tengah yaitu Mesir dan Uni Emirat Arab. Prabowo berharap dari negara-negara kaya petrodolar itu suntikan investasi masuk sehingga mampu memompa perekonomian di dalam negeri yang ia targetkan tumbuh 8 persen, suatu rencana yang dianggap kelewat ambisius dan tidak realistis. Prabowo dan rombongan juga berharap negara-negara itu bisa membantu keuangan Indonesia dalam menyukseskan program-program yang dijanjikannya dalam kampanye dulu, seperti makan siang gratis.
Puncak diplomasi Prabowo dengan hasil maksimal terjadi di India karena Prabowo mampu menyentuh hati Perdana Menteri Narendra Modi. Prabowo dengan piawai melakukan pendekatan di New Delhi dengan isu kedekatan budaya kedua negara. Indonesia sangat “India” secara budaya setelah ribuan tahun lalu agama Hindu dan Buddha pernah menjadi agama dominan di tanah air. Kini pun Bahasa Sanskerta masih menjadi bahasa yang banyak digunakan di berbagai tempat dan kesempatan.
Pilihan isu ini sangat mengena di hati Modi sehingga dalam pidatonya dia menyebut Prabowo “brother” untuk menunjukkan kedekatan. Soft power Prabowo bekerja dengan baik, masuk ke relung hati terdalam Modi, pemimpin negara demokrasi terbesar di dunia. Kini India tidak hanya sekadar sahabat, tetapi juga sudah menjadi “saudara”—setidaknya dalam budaya.
Prabowo tidak hanya berhenti sampai di sini. Dia menunjukkan persaudaraan Indonesia-India itu melalui peresmian Kuil Murugan di Jakarta yang disebut kuil Hindu Tamil terbesar di Indonesia, bahkan Asia Tenggara. Perdana Menteri Narendra Modi dari New Delhi memberikan sambutan melalui layar video conference. Modi dengan nada suara dan ekspresi muka yang tulus memberikan pujian kepada Prabowo dan sejumlah nama di Indonesia. Modi sangat senang dan sekarang Indonesia betul-betul dianggap “saudara” oleh India.
Prabowo, seorang jenderal yang oleh pendukungnya dikagumi sebagai seorang ahli strategi militer, dipercayai sedang menjalankan strategi canggih yang tidak dipahami orang awam. Prabowo dipercayai sedang menjalankan strategi perang yang diterapkan dalam diplomasi dan politik luar negeri, yang menggerakkan kekuatan halus dari luar menuju dalam negeri. Dalam fisika mekanika Newton, gerak ini dikenal sebagai gerak sentripetal, yaitu kekuatan yang berputar dan bergerak dari luar menuju pusat atau titik sumbu.
Prabowo dipercayai dengan sengaja menggunakan strategi sentriputal untuk mengubah percaturan politik di tanah air karena dia paham betul bahwa wakilnya, Gibran “Fufufafa” anak haram konstitusi—anak Jokowi finalis presiden terkorup di dunia versi OCCRP—akan terus menuai kontroversi sampai akhir jabatannya pada tahun 2029 karena kelicikan Jokowi mengubah UU Pemilu. Prabowo telah menghitung strategi ini dan efektivitasnya di tanah air. Dia berharap publik akan “meleleh“ melihat hasil diplomasinya.
Hitungan dan harapan Prabowo tidak berlebihan. Diplomasi luar negerinya disukai publik bukan karena langsung mendatangkan hasil berupa investasi dan pinjaman luar negeri, tetapi karena langkahnya merupakan antitesis dari postur Jokowi yang “plonga-plongo“. Pendahulunya itu, yang ia sebut sebagai guru politik, berbicara dalam Bahasa Inggris dengan logat dan pronunciation yang aneh, “plis inpes to mai kantri“, yang menyebabkan rakyat malu. Ini yang membuat setiap kali Jokowi ke luar negeri, seluruh anak negeri deg-degan campur stres melihatnya!
Namun apakah strategi sentriputal ini sepenuhnya berhasil tanpa mengindahkan gejolak politik dalam negeri yang menuntut agar Jokowi manusia dengan 1001 kezaliman segera ditangkap dan diadili, sementara Prabowo terus menunjukkan kedekatan bahkan menjadi pelindung Jokowi? Tidak cuma itu, Prabowo dengan terbuka menunjukkan sikap takzim berlebihan ke Jokowi penjahat kemanusiaan yang telah memenjarakan aktivis Islam dan ulama yang tidak bersalah, serta disebut juga terlibat dalam pembunuhan brutal enam laskar FPI.
Bagi para aktivis, mahasiswa, oposisi, dan semua elemen yang sedang mencari keadilan, maka ini tidak bisa dibiarkan. Jelas Prabowo sudah kebablasan dan harus dilawan karena sudah menjadi bagian dari kezaliman Jokowi yang dilawan selama 10 tahun terakhir ini. Prabowo telah menjadikan Indonesia yang sudah gelap menjadi tambah gelap, melanjutkan kegelapan yang diciptakan oleh Jokowi, manusia zalim yang seharusnya diadili seberat-beratnya.
Dengan keanehan kebijakan dan pendekatan politiknya, Prabowo kini adalah paradoks itu sendiri, melengkapi paradoks Indonesia yang pernah dia tulis dalam bukunya. Paradoks terbesarnya adalah menghormati penjahat bernama Jokowi yang seharusnya dihukum seberat-beratnya—bahkan publik meminta agar dia dihukum mati—yang telah menjadi kanker bangsa selama 10 tahun. Prabowo memuji Jokowi, merasa berhutang budi, mengatakan akan memohon maaf ke Jokowi, dan terakhir mengangkatnya menjadi penasihat Danantara—padahal Jokowi adalah finalis pemimpin terkorup di dunia versi OCCRP.
Prabowo lupa bahwa tidak semua manusia bisa dibeli seperti para buzzer dan begundal Jokowi yang kini masih menduduki jabatan menteri dan jabatan tinggi lainnya. Prabowo lupa bahwa orang Islam yang saleh akan selalu lebih takut kepada Allah SWT daripada apa pun selain Dia. Prabowo lupa bahwa melawan kezaliman dan menegakkan keadilan seiring dan sejalan dengan ajaran amar makruf nahi munkar dalam Islam—yang dalam hal ini Jokowi-lah sasarannya.
Pendek kata, apa pun usaha Prabowo untuk menarik hati rakyat dan semua warga yang sudah terlukai dan terzalimi oleh Jokowi selama 10 tahun ini, selama Prabowo tidak bisa memberikan keadilan, maka usahanya itu sia-sia belaka. Kini makan siang gratis dicurigai sebagai langkah Prabowo untuk mempertahankan kekuasaan pada Pemilu 2029 dan pendirian Danantara dianggap sebagai pundi-pundi untuk korupsi persiapan dana Pemilu 2029. Daftar kecurigaan ini akan terus memanjang.
Publik sudah terlanjur tidak percaya karena langkahnya melindungi penjahat bernama Jokowi jelas melawan ajaran agama, juga bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan yang berlaku universal. Prabowo tidak akan bisa meyakinkan rakyat bahwa langkahnya mendukung kejahatan Jokowi dapat dibenarkan dengan nilai dan norma mana pun.
Strategi apa pun yang akan digunakan oleh Prabowo, mau sentripetal ataupun sentrifugal, atau bahkan strategi paling canggih sekalipun yang turun dari langit, tidak akan berhasil karena kesalahan terbesarnya telah secara telanjang menunjukkan diri menjadi pelindung kejahatan Jokowi. Dalam agama Islam, juga hukum positif, yang dilakukan Prabowo sekarang termasuk ikut serta dalam plot kejahatan Jokowi—dan itu termasuk kejahatan.
Prabowo harus hati-hati bahwa kelak, ketika keadaan politik berganti, dia juga bisa diadili karena langkahnya ini di luar kewajaran, keadilan, dan nilai-nilai kemanusiaan yang berlaku umum. Prabowo harus hati-hati dengan orang sekelilingnya yang terus menyorongkannya menjadi “jongos“ Jokowi manusia zalim, karena itu melawan hukum dan keadilan.
Prabowo harus hati-hati dan juga harus cermat membaca psikologi massa yang sedang marah. Demo “Indonesia Gelap“ baru permulaan. Akan ada perlawanan lebih besar dan dahsyat, bahkan mungkin revolusi, untuk merebut keadilan yang telah dicabik-cabik oleh Jokowi penjahat kemanusiaan selama 10 tahun terakhir ini. ***