Fenomena Nan Fenomenal

Taufan S. Chandranegara, praktisi seni, penulis

Lebaran sebentar lagi. Apakah amal ibadah sudah baik. Apakah sudah lebih benar dari sebelumnya, atau masih jalan ditempat atau baru akan berlari cepat ketujuan-tujuan kebaikan bersama kebenaran dari keyakinan kehidupan melingkupinya. Ibarat kata terus mendaki dalam perjalanan menuju puncak tujuan sekalipun belum terlihat.

Tentu saja memerlukan kapasitas energi, keyakinan, berbekal hukum Keilahian. Menuju realitas dari puncak cita-cita kehidupan non-limit. Berlindung hanya pada ketentuan keimanan hukum Ilahi sepenuh jiwa-raga kesatuan kesantunan, sublimasi transendental. Sebagaimana lingkup perjalanan menuju puncak tujuan di ranah cita-cita politik bening, dari sebuah negara.

Apakah ada, negara hidup tanpa tujuan. Pertanyaan itu, barangkali sebuah kewajaran dari perjalanan pikiran. Lantas memutuskam memilih salah satu tujuan, dari sekian banyak rencana kehidupan bernegara, sebagaimana keikhlasan dari dukungan rakyat negerinya di manapun negara tersebut berada di muka Bumi ini.

Meski di angkasa komunikasi informasi berebutan info gaya hidup berpolitik, oke-oke ajah deh. Sejauh tak bersifat makar, lantas membuncah gosip untung rugi perolehan suara politis. Sekalipun hal macam itu nyaris bisa disebut serupa mode gaya hidup di ranah berpolitik. Namun tak juga menemukan kehebatan menuju ke garis akhir kemenangan; mengelola pemerntahan nan elok sebening mata air.

Apakah hanya kemenangan berpolitik, itukah perjalan lakon kehidupan bernegara. Mungkin pula bergantung pada tujuan dari cita-cita ideologis pemerintahan negara bersangkutan, mungkin pula masih dengan catatan.; Apabila negara bersih, bening, tak ada noda dari perilaku oknum koruptor setitikpun. Apakah hanya mungkin terjadi dalam mimpi.

Kalaupun bersama melahirkan pengembangan daya pikir penunjang kehidupan, di ranah perjalanan kultural edukatif menuju visi lanjutan sepektakuler, demi keutamaan kesejahteraan rakyat dari negara bersangkutan. Lagi-lagi kembali pada tujuan iman politik, kebudayaan, dari cita-cita kenegaraan melingkupinya.

Lantas pertanyaannya.; Siapa masih peduli pada pengembangan lakon hidup perilaku kebudyaaan sebuah negara, semisal hal sangat sederhana saja deh.; Benar-benar gagah berani membasmi korupsi, di arena politik kebudayaan melingkupinya. Lantas lagi-lagi muncul misteri pertanyaan.; Apakah pemangku kepentingan sebuah negara bersungguh-sungguh.; Berani. Membasmi korupsi.

Berani beneran loh! Tak sekadar slogan basa-basi siang bolong. Eh! Halah! Walahkadalah. Kok masih mencuat lagi ya, politik korupsi bernyanyi lantang bernilai triliun. Eh! Halah! lagi-lagi triliun loh bunyinya. “Ada korupsi triliun lagi loh.” Lagi-lagi rakyat senantiasa dibuat terkesima oleh munculnya, kasus-kasus korupsi hebat-hebat; lagi-lagi juara triliun.

Perolehan sampai mampu melahirkan, kemudian disebut kebudayaan dengan berbagai bentuknya, lahir dari pola laku serentak, bersama dalam satu wadah disebut negara; di ranah tersebut kebersamaan mencintai, melindungi negeri tercinta, merupakan dasar dari kejujuran suatu pola dari satu sistem pengelolaan pemerintahan sebuah negara di manapun.

Lantas kembali melahirkan pertanyaan. Siapa pemilik sebuah negeri sesungguhnya.; Rakyat atau penguasa, telah dipilih oleh rakyat, untuk mengelola, melaksanakan sistem kenegaraan. Di ranah tersebut akan selalu kembali pada keilmuan pencapaian sejarah ideologisnya sebuah negara, sebagaimana isme dianutnya berdasarkan ketentuan hukum-jurdilnya. Dilingkaran tata kelola negara hukum bersangkutan.; Berani apa enggak sih membasmi korupsi.

Ketika kekuasaan negara; pemerintahan dibentuk secara demokratis oleh rakyatnya. Seyogianya pula sang penguasa wajib; patuh pada mandat rakyat. Sebagaimana tercantum dalam nilai-nilai ideologis sebuah negara. Demi keberlangsungan tata kelola pemerintahan kenegaraan nan elok nian.; Dari rakyat untuk rakyat. Salam Ramadan.

***

Jakartasatu Indonesia, Maret 29, 2025