Catatan ke Tanah Suci: Kisah Masjid Nabawi (bagian 2)

2
501
Masjid Nabawi disaat jelang Malam yang megah. /AM

JAKARTASATU.COM – Ini bagian kedua dari catatan ibadah umrah. Hari pertama Kamis 22 Maret 2018, selain melakukan ibadah rutin di Masjid Nabawi. Ziarah di sekitar Masjid Nabawi, juga ziarah di sekitar, makam Rasulullah, Abu Bakar As Siqdiq dan Umar bin Khattab juga ke pemakaman Baqi.

Mimbar Masjid Nabawi sejak Zaman Rasulullah/AM

Masjid Nabawi

Masjid Nabawi  adalah sebuah masjid yang didirikan langsung oleh Nabi Muhammad, berlokasi di pusat kota Madinah di Arab Saudi.

Masjid Nabawi merupakan masjid ketiga yang dibangun dalam sejarah Islam dan kini menjadi salah satu masjid terbesar di dunia.

Masjid ini menjadi tempat paling suci kedua dalam agama Islam, setelah Masjidil Haram di Mekkah. Masjid ini dibuka setiap hari. Masjid ini sebenarnya merupakan bekas rumah Nabi Muhammad yang di tinggali setelah Hijrah (pindah) ke Madinah pada 622 M. Bangunan masjid sebenarnya dibangun tanpa atap. Masjid pada saat itu dijadikan tempat berkumpulnya masyarakat, majelis, dan sekolah agama. Masjid ini juga merupakan salah satu tempat yang disebutkan namanya dalam Alquran. Kemajuan masjid ini tidak lepas dari pengaruh kemajuan penguasa-penguasa Islam.

Kubah Hijau

Pada 1909, tempat ini menjadi tempat pertama di Jazirah Arab yang diterangi pencahayaan listrik.

Masjid ini berada di bawah perlindungan dan pengawasan Penjaga Dua Tanah Suci.

Masjid ini secara lokasi berada tepat di tengah-tengah kota Madinah, dengan beberapa hotel dan pasar-pasar yang mengelilinginya. Masjid ini menjadi tujuan utama para jamaah Haji ataupun Umrah.

Yang datang ke Masjid ini jamaah mengunjungi makam Nabi Muhammad untuk menelusuri jejak kehidupannya di Madinah.

Setelah perluasan besar-besaran di bawah Kesultanan Umayyah al-Walid I, dibuat tempat di atas peristirahAtan terakhir Nabi Muhammad beserta dua Khalifah Rasyidin Abu Bakar dan Umar bin Khattab. Salah satu fitur terkenal Masjid Nabawi adalah Kubah Hijau yang berada di tenggara masjid, Jamaah juga mengunjungi makam yang dulunya merupakan rumah Aisyah, dimana kuburan Nabi Muhammad berada.

Pada 1279, sebuah penutup yang terbuat dari kayu dibangun dan direnovasi sedikitnya dua kali yakni pada abad ke-15 dan pada 1817.

Kubah yang ada saat ini dibangun pada 1818 oleh Sultan Utsmaniyah Mahmud II, dan di cat hijau pada 1837, sejak saat itulah kubah tersebut dikenal sebagai “Kubah Hijau”.

Inilah sejumlah element yang indah di Masjid Nabawi yang terawat rapih. Foto AM

Keistimewaan Masjid Nabawi

Ada sejumlah keistimewaan tentang Masjid Nabawi diantaranya adalah:

Makam Rasulullah SAW

Pusara Nabi Muhammad SAW terletak di sudut timur Masjid Nabawi yang dahulu dinamakan Maqshhurah.

Disitu dahulu terdapat dua rumah, yaitu rumah tangga Rasulullah SAW dengan Siti Aisyah dan rumah Ali dengan Siti Fatimah. Setelah Rasulullah SAW wafat pada tahun 11 H (632 M) rumah itu terbagi dua, yaitu bagian arah kiblat (selatan) untuk makam beliau dan yang sebelah utara untuk tempat tinggal Siti Aisyah.

Sejak tahun 678 H (1279 M) di atasnya dipasang Kubah Hijau (Green Dome) sampai sekarang. Jadi persis di bawah Green Dome inilah jasad Rasulullah Saw dimakamkan. Kalau kita melihat Green Dome berarti kita melihat makam Rasulullah SAW.

Dan juga makam kedua sahabat beliau, yaitu Abu Bakar Shiddiq dan Umar bin Khattab yang dimakamkan dibawah kubah itu berdampingan dengan makam Rasulullah SAW. Kini lokasi rumah Rasulullah di masa lalu di juluki ‘makam tiga manusia mulia’. Setelah masjid diperluas, makam Rasulullah SAW, Abu Bakar dan Umar dimasukkan ke dalam bangunan masjid.

Pada bangunan ini terdapat empat buah pintu yaitu:
a. Pintu di sebelah kiblat, dinamakan At-Taubah
b. Pintu di sebelah timur, dinamakan Fatimah
c. Pintu di sebelah utara, dinamakan Tahajjud
d. Pintu di sebelah barat ke Roudloh sudah ditutup.

Kalau kita sedang berada di Roudloh dan menghadap kiblat, pusara Nabi berada di sebelah kiri kita, yaitu bangunan persegi empat berwarna hijau tua yang anggun berwibawa dan menebarkan bau wangi-wangian.

Aisyah dan banyak sahabat yang lain, dimakamkan dipemakaman umum Baqi. Dahulu terpisah cukup jauh, kini dengan perluasan masiid, Baqi jadi terletak bersebelahan dengan halaman Masjid Nabawi.

  1. Taman Raudlah

Didalam hadist riwayat Bukhari dan Muslim, Raudlah
digambarkan sebagai tempat yang istimewa. “Diantara rumahku dan mimbarku adalah taman-taman surga dan mimbarku berada di atas telagaku.” Begitulah sabda Rasulullah SAW seperti yang ada didalam hadist Bukhari dan Muslim.

Raudlah adalah lokasi yang terdapat di dalam Masjid Nabawi. Posisinya terletak di antara Mimbar dan makam Rasulullah, yang sekarang ditandai oleh pilar-pilar berwarna putih dengan ornament yang khas, sedangkan lantainya dilapisi permadani wool yang sangat indah dan unik, Raudlah juga disebut Taman Surga (Muttafaq’allah).

Pengertian Raudlah sebagai taman surga pada hadist di atas terdapat beberapa pendapat para ahli, antara lain sebagai berikut:
a. Bahwa Allah SWT menurunkan rahmat-Nya dan berbagai kebahagiaan di tempat itu, karena di tempat itu dilakukan zikir dan pemujaan kepada Allah SWT, yang karenanya dijanjikan surga.
b. Tempat itu kelak setelah kiamat benar-benar akan dipindahkan oleh Allah SWT ke surga, sehingga ia menjadi bagian dari taman surga yang hakiki
c. Orang-orang yang pernah berdoa di Raudlah
akan melihatnya di surga.

Raudlah adalah satu tempat yang maqbul untuk berdoa, karenanya tempat ini selalu dipadati oleh jamaah. Tempat ini menjadi rebutan jamaah pria. Jamaah perempuan tidak bisa shalat wajib di Raudlah, karena seluruh shaf diisi oleh jamaah pria. Namun jamaah perempuan diberi kesempatan untuk shalat sunah di Raudlah pada waktu Dhuha, dari pagi sampai menjelang sholat dzuhur.

Di Raudlah terdapat beberapa tiang (usthuwaanah) yang penting. Tiang-tiang tersebut adalah sebagai berikut:
a. Tiang Siti Aisyah. Tiang ini yang disebut Utshuwanah Aisyah, terletak ditengah Roudhloh, yakni tiang yang ketiga dari mimbar dan dinding makam Rasulullah SAW. Ditengah tiang ini terdapat tulisan dalam bahasa Arab: Utshuwaanah Aisyah.

  1. Tiang Taubah. Tiang ini disebut Utshuwaanah At-taubah. Tiang At-Taubah ini terletak antara tiang Aisyah dan tiang A-Sarir (dinding makam RAsulullah Saw). Tiang ini terkenal juga dengan sebutan tiang Abu Laulubah (Utshuwaanah Abu Lulabah)
  2. Tiang As-Sarur (Utshuwaanah As-Sarir). As-Sarir artinya tempat tidur. Tiang As-Sarir letaknya sebelah timur (disamping) tiang At-Taubah, menempel pada dinding makam Rasulullah SAW
  3. Tiang Al-Haras (Utshuwaanah Al-Haras). Tiang ini menempel pada dinding makam Rasulullah SAW sebelah utara tiang As-sarir. Tiang ini bersejarah karena disitulah para sahabat mengawal Rasulullah SAW dan menjadikan tempat itu sebagai pos keamanan Rasulullah SAW, sampai datang jaminan keamanan dari Allah SWT untuk Rasulullah SAW melalui firman-Nya, “Allah memelihara kamu dari (ganguan) manusia” (QS Al-Maidah :67)
  4. Tiang Al-Wufud (Utshuwaanah Al-Wufud (Utshuwaanah Al-W ufud). Tiang ini terletak paling utara dari tiang As-Sarir dan tiang Al-Haras. Letaknya menempel pada dinding makam Rasulullah menerima tamu-tamu pentingnya, baik para petinggi Arab maupun orang-orang mulia dan terkemuka dari para sahabat.

Semua tiang bersejarah itu hingga kini masih tetap dipelihara dan ada pada tempatnya. Setiap jamaah yang mengunjungi Masjid Nabawi dapat menyaksikannya.

  1. Mimbar Rasulullah SAW

Mimbar ini terdapat di Taman Raudlah dan memiliki 3 tingkat, terbuat dari kayu yang diambil dari sebuah hutan di bagian utara kota Madinah. Pada tahun 8 H, Rasulullah SAW memakai mimbar ini, duduk pada bagian yang paling atas kaki beliau ditingkat kedua.

Pada waktu Abu Bakar Shidiq ra menjadi khalifah, beliau duduk ditingkat kedua dan kakinya di bagian yang paling bawah. Dan Umar bin Khatab ra duduknya di tingkat yang paling bawah dan kakinya menyentuh lantai. Utsman bin Affan ra meniru cara duduknya Umar bin Khatab ra selama 6 tahun, kemudian naik keatas, duduknya pada posisi duduk Rasulullah SAW.  Pada saat Mu’awiyah pergi haji beliau menambahkan beberapa tiang pada Mimbar Rasulullah SAW dan yang asli diletakkan pada bagian yang paling atas.

Semuanya menjadi 9 tingkat dengan tempat duduknya. Para khalifah berdiri pada tingkat yang ke-7 yaitu tingkat pertama Mimbar Rasulullah SAW.

Kebiasaan ini terus berlanjut sampai terjadi kebakaran tahun 654H/1256. Sejak saat itu orang tidak bisa lagi duduk ditempat berkah tersebut. Sebagai penggantinya dibuatlah mimbar oleh penguasa Yaman, Al-Muzhoffar tahun 656H/1258 M dan pada tahun 666H/1268 M diganti lagi dengan mimbar yang baru yang dikirim Azh-Zhohir Bibris.

Dan kemudian terjadi beberapa kali pergantian, yaitu pada tahun 797 H, oleh Baquq, tahun 820 H oleh Al-Muayyad, namun terbakar lagi pada tahun 886H/1487 M. penduduk Madinah kemudian membuat mimbar baru dari batu bata yang dicat kapur dan ini pun kembali diganti oleh Qoyit Bey dengan mimbar dari marmer tahun 888H/1483 M.

Oleh Sultan Murad III, mimbar marmer itu dibawa ke Quba dan dikirim kubah baru tahun 998 H.

Mimbar ini sangat bagus dan rapi, terbuat dari marmer tetapi luarnya dipoles emas dan berbentuk ukiran. Bagian atasnya berebntuk kubah dengan tiang penyangga. Diatas pintunya ada tulisan ayat Al-Quran yang selalu Nampak seperti baru selesai disepuh emas. Pemerintah Arab Saudi mengecatnya dengan air emas asli.

Mimbar ini diletakkan persis pada posisi Mimbar Rasulullah SAW, sebelah barat Mihrab Rasulullah SAW. Berjumlah 12 tingkat (tangga), 3 diluar pintu mimbar dan 9 tingkat berada dididalamnya. Dalam kitab Khulashoh Al-Wafa halaman 145 disebutkan ada hadist yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Sahl Ibn Sa’ad bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Mimbarku adalah pintu (tir’ah)dari pintu-pintu surga”. Sahl Ibn Sa’ad menjelaskan bahwa katatir’ah artinya pintu, tetapi ada juga yang berpandangan bahwa kata itu artinya sebuah taman yang berada di tempat yang tinggi, atau berarti sebuah tingkat.

Tiang Harum Mukhallaqah adalah tiang yang diletakkan pada 4 batang yang digunakan Rasulullah SAW berkhutbah sebelum dibuatnya mimbar. Dalam kitab Al-Wafa bin Ahwal al-Mushtafa Juz I halaman 490 diterangkan, Ibnu Buraidah menyebutkan bahwa Rasulullah SAW bila berdiri Khutbah dan lama merasa berat, maka dibawalah sebatang korma yang ditancapkan disampingnya, sehingga bila beliau berkhutbah dan lama berdiri bisa bersandar pada batang itu.

  1. Tempat pertama di Jazirah Arab yang dialiri listrik
    Ketika kekaisaran Utsmani memperkenalkan lisrik ke Jazirah Arab, tempat pertama yang diterangi cahaya listrik adalah Majsd Nabawi. Sultan lebih memrioritaskan Masjid Nabawi ketimbang istananya sendiri di Istanbul. Barulah beberapa tahun setelahnya, Sultan menerangi seluruh istananya denga cahaya listrik.
  2. Jauh lebih luas dari bangunan awal
    Masjid Nabawi yang kita kenal sekarang sudah mengalami perluasan beberapa kali. Masijd sederhana, yang dulu hanya memiliki luas sekitar 50 meter x 50 meter, kini memiliki luas sekitar seratus kali lebih luas dari ukuran awalnya.
  3. Makam kosong dimakam Rasulullah
    Ada sebuah makam kosong tepat setelah makam Rasulullah SAW, Abu Bakar, dan Umar. Hal ini telah diakui kebenarannya oleh pihak berwenang yang mengganti penutup hujrah di tahun 1970. Untuk siapakah pusara kosong itu? Mungkinkah ia disiapkan khusus untuk Nabi Isa as di akhir zaman nanti?
  4. Kubah Masjid Nabawi dulu berwarna ungu
    bukan warna hijau seperti yang kita ketahui sekarang. Kubah itu mengalami proses pergantian warna dan renovasi hingga mencapai bentuk dan warnanya yang sekarang, yaitu sekitar 1,5 abad yang lalu. Kubah itu dulunya pernah berwarna putih, warna faforit orang Arab, dalam waktu yang cukup lama.
  5. Ada apa di dalam kamar Fatimah?
    Benda-benda peninggalan Rasulullah SAW ditempatkan di dalam kamar beliau atau ruangan yang menjadi kamar Fatimah setelah perluasan. Ketika Perang Dunia I, Madinah berada di bawah kepungan musuh, yang membuat kesultanan Utsmani memutuskan untuk mengevakuasi berbagai benda berharga di kamar itu dan mengangkutnya ke Istanbul. Benda-benda berharga itu disembunyikan di  bawah pakaian anak-anak dan perempuan, sehingga tidak terdeteksi oleh musuh. Sekarang, benda bersejarah itu bisa dilihat di Istana Topkapi, meskipun ternyata ada beberapa benda yang ternyata masih belum terdokumentasikan.
  6. Penuh dengan simbol rahasia
    Masjid Nabawi dipenuhi dengan begitu banyak simbol rahasia. Setiap tiang, setiap kubah, setiap jendela semua memiliki cerita dan menunjukkan tempat-tempat serta kejadian bersejarah dan spiritual yang pernah tejadi.

Orang-orang yang membangun Masjid Nabawi menyadari bahwa tidak mungkin untuk menaruh simbol diberbagai tempat, karena akan mengurangi konsentrasi para jamaah yang beribadah. Oleh karena itu, mereka memiliki ide jenius dalam menunjukan tempat, melalui beberapa perubahan kecil dari desain beberapa objek yang ada di dalam masjid.

  1. Rintihan tangis batang kurma
    Rintihan tangis batang kurma adalah mu’jizat yang diberikan kepada Rasulullah SAW dan tidak diberikan kepada nabi-nabi sebelumnya. Banyak riwayat menceritakan kejadian ini, diantaranya sebuah riwayat dari Ubay bin ka’ab. dia berkata,

Adalah Rasulullah SAW sholat dekat batang kurma, sebab dulu masjidnya dekat pelepah kurma. beliau juga berkhutbah pada batang itu, sampai seorang sahabat berkata “wahai Rasulullah, apakah engkau izinkan jika kami buatkan sesuatu untuk berdiri di hari Jumat, agar orang bisa melihat dan mendengarkan suara mu? ‘ beliau berkata, “ya”, maka dibuatlah mimbar itu diletakkan di tempat berdiri Rasulullah SAW, dan ketika Rasulullah SAW akan menuju mimbar beliau melewati batang kurma yang dulu digunakannya berkhutbah.

Tatkala dilewati, batang itu menjerit hingga terbelah. Saat jeritan itu terdengar, Rasulullah SAW turun dan pengusapnya dengan tangan hingga tenang, kemudian kembali ke mimbar. Bila shalat, beliau juga shalat ditempat itu. Ketika masjid Nabawi dipagar dan diperbaiki, batang kurma itu diambil oleh Ubay bin Ka’ab dan disimpan di rumahnya sampai hancur dimakan rayap. pada riwayat Jabir yang disohihkan oleh Imam Bukhari dijelaskan bahwa suara jeritan itu seperti suara rintihan unta yang sedang hamil 10 bulan.

  1. Mihrab
    Mihrab Masjid Nabawi dibangun pertama kali pada tanggal 15 sya’ban tahun 2H yaitu setelah Rasulullah SAW menerima perintah dari Allah SWT memindahkan arah kiblat dari baitul Maqdis ke Baitullah Mekkah. Kini Masjid Nabawi memiliki 5 buah Mihrab yaitu:
  2. Mihrab Majidi, terletak di sebelah utara dakkatul Auhowal, suatu tempat agak tinggi yang memisahkan antaraMihrab Tahajjud dan Mihrab Al-MAjidi. Panjang Mihrab Al-Majidi ini 12 meter dengan tinggi 0,5 meter. Pada masa itu di tempat ini berkumpul para Ahlus-Sufah, satu kelompok muslim yang tidak mempunyai tempat tinggal dan hanya berdiam di halaman-halaman masjid.
  3. Mihrab Nabawi, terletak di  sebelah timur mimbar. Mihrab ini mula-mula dipakai oleh Rasulullah SAW sewaktu memimpin shalat berjamaah. Mihrab tersebut merupakan hadiah dari Qait-Bey,Mesir.
  4. Mirab Sulaiman, terletak di sebelah kiri mimbar, dan bentuk mihrab ini menyerupai Mihrab Nabawi. Mihrab tersebut dibangun pada tahun 938 H yang merupakan hadiah dari sultan bin Salim, Turki.
  5. Mihrab Tahajjud, terletak di sebelah utara jendela makam Rasulullah SAW dengan ukuran bentuk lebih kecil dari Mihrab Nabawi. Pada masa itu di Mihrab ini Rasulullah SAW sering melakukan shalat Tahajud.
  6. Mihrab Usmani, terletak di tengah-tengah dinding arah kiblat yang hingga kini masih dipergunakan untuk imam memimpin shalat berjamaah.
    Selain mempunyai mihrab-mihrab tersebut, Masjid Nabawi juga mempunyai 6 buah pintu utama. Pintu-pintu tersebut adalah (arah menghadap kiblat) : pintu As-salam, pintu Ash-Shiddiq dan Pinu Ar-Rahmat disebelah kanan masjid, sedang dengan disebelah kiri masjid terdapat pintu An-Nisa Jibril dan pintu Baqi.

Keutamaan Shalat di Majid Nabawi
Dalam suatu hadist disebutkan dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Siapa yang sholat di Masjidku ini empat puluh shalat dan tidak tertinggal satu shalat pun (berturut-turut) maka akan bersih (terlepas) dari siksa neraka, lepas dari azab dan bersih dari kemunafikan.” (HR Ahmad)

Dari hadist ini kemudian muncul istilah arba’in yang berarti empat puluh. Setiap jemaah haji berusahaha untuk mendapatkan arba’in di Masjid Nabawi. Caranya adalah dengan melakukan shalat fardhu selama 8 hari berturut-turut tanpa putus.

Para ulama bebeda pendapat tentang kekuatan hadist arba’in ini. Al-MUndziri, seorang ahli hadist mengatakan bahwa perawi berpendapat bahwa seorang perawi hadist diatas semuanya adalah tsiqot (shohih). Ibnu HAjar berpendapat bahwa salah seorang perawi hadist yang bernama Nabith bin Umar diragukan ketsiqotannya oleh sebagian ahli hadist.

Shalat 40 waktu (arba’in) di Masjid Nabawi diatas dapat pula dikaitkan dengan hadist Rasulullah SAW yang mengatakan bahwa, “siapa yang sholat berjamaah (dengan ikhlas karena Allah SWT) selama 40 hari berturut-turut sejak takbiratul ihram yang pertama, maka dia akan lepas dari kemunafikan.” (Hadist Hasan).

Hadist diatas menjelasakan keutamaan sholat berjamaah pada selain Masjid Nabawi. Kalau di Masjid nabawi diperlukan 40 waktu, sedang diluar Masjid Nabawi diperluakan 401 waktu, sedangkan di luar Masjid Nabawi diperlukan 40 hari agar terlepas dari azab Allah SWT. Disamping itu, adanya kesamaan jumlah 40 dalam dua hadist tersebut yang kemungkinan duharapkan dari jumlah itu akan membentuk kebiasaan untuk melaksanakan sholat berjamaah.

Pahala orang yang shalat di Masjid Nabawi sama dengan orang yang shalat seribu kali di masjid lainnya. Rasulullah SAW bersabda, “shalat di mesjidku sama dengan orang yang shalat seribu kali di masjid lainnya, kecuali Masjidil Haram. “(HR. Bukhari). Alasan inilah yang menunjukan bahwa berziarah ke Masjid Nabawi memiliki arti sangat penting.

Selain ke Masjid NAbawi, ziarah juga dianjurkan ke makam Rasulullah SAW. Beliau bersabda, “tidak ada seorang pun yang mengucapkan salam kepadaku kecuali Allah akan mengembalikan rohku sehingga aku dapat menjawab salamnya. “(HR. Abu Dawud)
Dalamnya salah satu hadist Rasulullah SAW juga bersabda, “siapa yang berhaji dan lalu berziarah ke makamku setelah aku meninggal, maka seolah-olah dia berziarah kepadaku saat aku masih hidup.”(HR. Thabrani dan Bayhaqi)

Rasulullah SAW dikaruniai berbagai keistimewaan yang tidak dimiliki nabi-nabi lain. Diantaranya ialah dianjurkannya mengucap shalawat dan salam kepada beliau, kapan pun dan dimanapun. Keistimewaan lainnya ialah bahwa apa yang dibolehkan bagi diri Rasulullah tidak serta-merta dibolehkan bagi orang lain. Misalnya adalah larangan membangun masjid di atas makam. Allah SWT berfirman, “sesungguhnya masjid-masjid itu kepunyaan Allah. Janganlah kamu menyembah seorangpun didalamnya selain (menyembah) Allah. “QS.Al-Jin:18)
Rasulullah SAW juga melarang umatnya membangun masjid di atas makam. Beliau pernah bersabda, “Allah melaknat kaum Yahudi dan Nasrani yang menjadikan makam nabi-nabi mereka sebagai masjid.”(HR.Bukhari)

Rasulullah SAW juga pernah bersabda ketika menanggapi cerita Ummu Salamah dan Ummu Habibah tentang tradisi membangun masjid di atas kuburan Ethiopia (Habsyah), “Jika terdapat orang shaleh yang meninggal dunia, lalu mereka membangun masjid diatas makamnya, sesungguhnya mereka itu seburuk-buruknya makhluk Allah pada hari kiamat.”(HR. Bukhari)

Rasulullah SAW juga mengingatkan para peziarah agar tidak keluar dari tujuan asal ziarah, yaitu merenung, mengambil pelajaran dan tidak berbuat bid’ah. Beliau bersabda, “janganlah menjadikan rumah-rumah kalian sebagai makam dan janganlah menjadikan makamku sebagai tempat perayaan. Bershalawatlah kepadaku karena shalawatmu akan sampai kepadaku dimana pun kalian berada.” (HR. Abu Daud)

Demikian keistimewaan Masjid Nabawi Keutamaannya dinyatakan oleh Nabi S.A.W, sebagaimana diterima dari Jabir ra. (yang artinya):  “Satu kali salat di masjidku ini, lebih besar pahalanya dari seribu kali salat di masjid yang lain, kecuali di Masjidil Haram. Dan satu kali salat di Masjidil Haram lebih utama dari seratus ribu kali salat di masjid lainnya.”  — Riwayat Ahmad, dengan sanad yang sah. Diterima dari Anas bin Malik bahwa Nabi S.A.W bersabda (yang artinya):  “Barangsiapa melakukan salat di mesjidku sebanyak empat puluh kali tanpa luput satu kali salat pun juga, maka akan dicatat kebebasannya dari neraka, kebebasan dari siksa dan terhindarlah ia dari kemunafikan.”  — Riwayat Ahmad dan Thabrani dengan sanad yang sah. Dari Sa’id bin Musaiyab, yang diterimanya dari Abu Hurairah, bahwa Nabi S.A.W bersabda (yang artinya):  “Tidak perlu disiapkan kendaraan, kecuali buat mengunjungi tiga buah masjid: Masjidil Haram, masjidku ini, dan Masjidil Aqsa.”  — Riwayat Bukhari, Muslim dan Abu Dawud. Berdasarkan hadits-hadits ini maka Kota Madinah, terutama Masjid Nabawi selalu ramai dikunjungi umat Muslim yang tengah melaksanakan ibadah haji atau umrah sebagai amal sunah.

Lokasi masjid Nabawi di Arab Saudi saat ini Informasi Letak secara umum koordinat geografinya sebagai berikut    24,468333°LU, 39,610833°BT Koordinat: 24,468333°LU 39,610833°BT

(bersambung) AHM

baca juga:

Kisah Perjalanan Kedua Tanah Suci (Bagian I) Catatan ke Mekah dan Madinah

Comments

comments

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.