STARTUP WINTER

0
673

Perampingan bisnis UNICORN bukan sekadar karena tidak bisa mencetak laba – dan bagaimana kita mengambil keuntungan darinya.

Oleh : William Win Yang – KABID Digitalisasi KADIN Indonesia

 

Ssstttt perusahaan – perusahaan startup digital satu per satu melakukan perampingan.. kata orang ini sih karena mereka bisnis bakar-bakar duit dan ga profit…. Tapiiiii… ternyata alasannya bukan itu.

VC mulai ngerem pendanaan, konon mencari bisnis yang profitable, karena kapok bisnis bakar duit…. Tapiiiii ternyata alasannya juga bukan itu.

VC lain menemui saya, meminta saya cari cara untuk membailout investasinya yang bleeding. Kalau orang sok pinter liat dari luar, akan ngoceh tentang model bisnis bakar duit tidak sehat dari startup digital dan lain sebagainya… Tapiiiii ternyata alasannya juga bukan itu.

Jadi apa donk?

Untuk menegerti fenomena ini, harus kita pahami beberapa poin :

1. Dari mana asalnya duit yang diboroskan untuk bakar duit itu?
2. Dan kenapa mereka mau bakar duit?

 

Yang jelas jawabannya, bukan karena pelakunya bodoh. Mereka orang-orang MBA lulusan luar negri loh. Beda jauh sama pengamat karbitan sok tahu yang berfokus cari panggung.

Asal duit untuk bakar duit

Di puncak dunia ini ada uang yang sangat besar, yang diambil dari dana kelolaan investasi untuk orang-orang kaya, dana pensiun, asuransi, atau souvereign fund. Tugas mereka adalah mengelola dana investasi mereka untuk terus bertumbuh, untuk membayar nasabah mereka pada waktunya tiba nanti, plus sebagian keuntungan untuk mereka.

Dana yang mereka kelola sangat besar, bahkan mencapai trilyunan dollar. Dengan angka sebegitu, bukanlah hal yang mudah. Karena jika mereka masuk sembrono ke satu market, market itu akan langsung terbang ke langit, sementara jika mereka tarik, langsung hancur ke dasar bumi.

Raksasa pengelola uang ini, saat mengelola dana memiliki indikator kesuksesan, yaitu : Index Saham suatu negara tempat mereka bertaruh. Jika di Indonesia, kita menyebutnya IHSG. Jika mereka berhasil menyamakan index, maka mereka ok, jika diatas index, maka mereka menang, sedangkan jika di bawah index mereka kalah. Jika mereka kalah dalam periode waktu tertentu secara beruntun, maka mereka harus rubah strategy.

Kembali ke Index. Para raksasa keuangan ini yang saya suka sebut sebagai “KAIJU” (Monster Raksasa). Umumnya akan mencoba menyamakan index. Karena uang yang mereka kelola begitu besar, tidak ada waktu main-main pada saham yang tidak jelas. Maka itu, mereka biasanya masuk ke saham Blue Chip atau saham-saham penggerak index, dan berusaha menyamakan kinerja index, sambil berharap muzizat mereka bisa beat the market. Semua berjalan lancar, sampai muncul anomali kekalahan berkali-kali, dan merekapun mulai mengkaji ulang tesis investasi mereka.

Contoh : Bertahun-tahun kita invest di walmart, tiba-tiba saham walmart kalah terus kinerjanya dari market. Apa yang terjadi? Rupanya karena kinerja walmart yang terus melemah, sementara kinerja amazon terus meningkat. Sesuai SOP yang berlaku, mereka tidak boleh keras kepala. Mereka tidak mau bernasib seperti investor bodoh yang bertahan di investasi pabrik mesin tik, sementara dunia beralih ke komputer. Jadi apa kesimpulan kajian ulang mereka? Telah muncul bluechip baru bernama Amazon yang jadi penggerak market. Maka itu, mereka tarik uang dari Walmart (yang membuat harganya makin tenggelam ke dasar bumi), dan melimpahkan uangnya ke saham teknologi, yang mana dalam kasus ini adalah Amazon. Hal ini menyebabkan harga saham Amazon loncat gila-gilaan dengan P/E yang mungkin paling tidak masuk akal dalam sejarah, yaitu : 500 (artinya dengan keuntungan sekarang, balik modalnya 500 tahun).

Inti dari cerita ini apa?

Ada kebutuhan dari lembaga investasi besar untuk menempatkan uangnya ke teknologi baru, tapi pilihan yang ada tidak banyak (dalam kisah ini adalah amazon). Perlu lebih banyak perusahaan teknologi yang go public untuk menyerap investasi mereka. Peluang inilah yang dilihat VC. Mereka mengumpulkan dana investor, membeli saham di sebuah perusahaan teknologi, memoles laporan keuangannya, kemudian membawanya go public, kemudian di invest besar oleh para Kaiju, dan para VC pun memperoleh untung besar.

Nah para VC raksasa berkocek tebal ini biasanya tidak mencari perusahaan startup, melainkan perusahaan yang established yang tinggal di poles dikit untuk go public (Walau dalam prakteknya kadang mereka invest juga di level yang lebih rendah, atas pertimbangan tertentu). Satu perusahaan established sukses di beli dan go public, terus berlanjut ke dua, ke tiga, dan pemain yang meniru ide inipun ikut masuk dan meramaikan pasar, hingga jumlah perushaan teknologi yang established pun habis.

Peluang inilah yang dilihat oleh VC yang lebih kecil. Dia membeli perusahaan berjalan yang dalam track yang tepat untuk growth, memolesnya, kemudian menjualnya ke VC raksasa yang siap melakukan go public itu. Pola serupa pun terjadi, hingga perusahaan sejenis itu kering.

Peluang ini sekali lagi dilihat VC yang lebih kecil. Terus begitu sampai yang terkecil diantara semuanya adalah : “Angel Investor”

Ringkasan : Dari mana datangnya uang yang membanjiri dunia startup ini? Dari permintaan yang besar dari para Kaiju untuk menempatkan uangnya di teknologi baru, yang akibatnya mentrigger para investor di bawahnya untuk berspekulasi menghadirkan bisnis yang bisa di jual ke para Kaiju… dan ini belum menghitung jumlah strategic investor yang tidak terhitung jumlahnya (Detil bisa di baca di buku “Investing in Digital Startup – Unicorn Edition”)

Kenapa mereka mau bakar duit?

Bakar duit adalah satu strategy untuk menciptakan salah satu ilusi yang disebut hyper growth (pertumbuhan yang cepat) : misalnya 10 juta pelanggan hanya dalam 3 bulan pertama launching. Kenapa ini penting? Untuk menunjukan bahwa bisnis ini benar-benar akan menggantikan yang lama. Buktinya penyerapannya tinggi sekali kan?

Tapi ini kan bakar duit?

Yes, tapi kami ini kan perusahaan digital. Solusi kami lebih modern, lebih mudah, dan lebih nyaman dibanding pemain lama. Uang yang kami bakar mayoritas untuk promosi dan akuisisi market. Yang mana, jika tanpa itu sesungguhnya biaya operasional kami ini kecil sekali. Yang artinya, jika itu di hapus, penjualan mungkin berkurang, tapi client akan tetap ada di sana. Siapa sih yang langsung stop pakai GoJek dan kembali ke ojek pangkalan gara-gara Gojek ga ada promo lagi? Mungkin ada kali ye, tapi kayaknya ga banyak.

Kesimpulan : kenapa bakar duit? Untuk menguasai market secepat mungkin, sebagai bukti kami memiliki perusahaan revolusioner yang mengubah dunia. Pemain lama akan segera tutup digantikan dengan kami. Dengan pesan seperti itu, menjadi cukup layak untuk di jual ke investor yang lebih tinggi, untuk kemudian di poles dan di bawa ke go public.Dan jika saatnya tiba nanti subsidi di hilangkan, maka akan ada pemecatan dan promo akan berkurang atau bahkan hilang sama sekali, tapi bisnis yang kami rintis akan tetap bertahan.

Ringkasan aktivitas dunia digital :

1. Kebutuhan investasi para Kaiju
2. Di supply oleh VC dengan menghadirkan bisnis teknologibaru yang katanya bisa menggantikan bisnis lama. Ini dibuktikan dengan teknologi yang lebih modern dan nyaman, dan market penetration yang cepat sekali.

 

Apa yang terjadi sekarang?

Demikianlah, pesta pora itu berlangsung sekian lamanya. (khusus di Indonesia, diawali kisaran 2010, saat Kaskus dibeli Djarum senilai Rp.1,5 Trilyun). Hingga satu titik… pesta itu seolah usai. Startup digital ramai-ramai melakukan pengurangan karyawan, dan beberapa VC mengemis-ngemis kesana kemari untuk mencari pembeli startup digital yang sudah dia pelihara.

Semua diawali dari terjadinya kondisi yang memaksa banyak investor para Kaiju untuk segera melakukan cash out investasi mereka, yang konon alasannya adalah demi membackup bisnis mereka, atau ekonomi negara mereka yang sedang colapse. Ditambah kenaikan bunga “The Fed”, yang konon jadi alasan klasik jatuhnya pasar modal.

Singkat cerita, uang yang di janjikan para Kaiju tiba-tiba hilang, bahkan mereka mencoba mencairkan investasi merekayang terdiversifikasi di berbagai tempat, mentrigger penurunan pasar modal, hingga investor VC di bawahnya juga mengerem pengucuran dana. Apalagi mungkin saja investorpara VC itu banyak yang mulai cash out dana untuk kebutuhan mereka. Pengereman dana ini menghadirkan dampak sistemik sampai ke bawah.

Startup yang menerima berita buruk ini, segera melakukan tindakan pengurangan biaya besar-besaran dengan memecat karyawan dan mengurangi promo. Juga mulai menaikan harga untuk menyelamatkan dirinya, sambil menunggu keadaan berbalik dan kucuran dana kembali mengalir untuk di hamburkan.

Pada saat ini terjadi, banyak yang mengejek model bisnis bakar-bakar duit dari startup. pertanyaannya…. Apakah keadaan jadi lebih baik bagi bisnis konvensional yang mereka disrupsi? Tampaknya jawabannya adalah tidak. Mall-mall tetap tutup karena terdisrupsi e-commerce, Travel agent tetap tidak bisa seperti dulu lagi, dan tukang ojek tetap berseragam hijau, tidak kembali ke pengkolan. Para raksasa digital tetap bertahan, hanya mengerem.

Tapi kan masih banyak itu pitch battle (pertandingan startup berhadiah investasi) bertebaran di internet

Yes, karena show must go on. Event yang sudah di rancang lama, dan dianggarkan lama dengan dana sponsor-sponsor tidak mungkin di batalkan. EO mana mau kembalikan uang sponsor, dan sponsor juga malu kalau membatalkannya. Para VC dunia digital harus tetap menunjukan bahwa semua baik-baik saja, dan bisnis mereka tidak terpengaruh, seperti tahanan KPK yang melambaikan tangan penuh senyum.

So, event akan tetap jalan, dan hadiah akan tetap di berikan, hanya saja untuk next level funding, mungkin harus menunggu arah angin berubah…. Dan itu mungkin agak lama.

Now what?

Selama sekian lama kita di buat ngeri untuk bersaing melihat bisnis bakar-bakar duit. Namun sekarang mereka tidak dalam posisi melakukan bakar-bakar duit seperti sebelumnya. Investor mereka bahkan sedang pusing cari cara untuk keluar dari investasi mereka karena kebutuhan mendesak (bukan karena bisnis digital ini jelek).

Sekaranglah saatnya bagi kita yang punya modal untuk masuk.

Saat ini memang tidak ada VC raksasa yang menjanjikan akan membeli bisnis kita saat kita memperoleh sekian juta client seperti tahun lalu, tapi lihatlah saat ini pesaing mengerikan itu sedang tiarap semua. Mari kita analisa… pada titik apa kita bisa masuk? Adakah medan perang yang mereka tinggalkan kosong untuk kita rebut? Atau adakah mereka yang begitu kehabisan uang, dan bisa kita beli dengan murah? Atau kita mengisi titik-titik kosong yang mereka tinggalkan, kemudian menjualnya lagi berlipat-lipat pada para UNICORN itu saat kucuran dana para Kaiju kembali mengalir?

Ehipassiko (datang dan lihat sendiri)

Diintisarikan dari :

1. Investing in Digital Startup – Unicorn Edition
2. Dragon Slayer Trading Strategy
3. How to be a Taipan