IG@xald_____
IG@xald_____

Buruk Citra Sosial Media, Netizen Dibelah: Perang Digital Kalah, Israel Berkilah

Oleh: WA Wicaksono 
Sosial media telah menjadi medan pertempuran modern di mana opini, informasi, dan propaganda saling bersaing untuk mendapatkan dukungan. Konflik Israel-Palestina tidak hanya terbatas pada medan perang fisik, tetapi juga memunculkan pertarungan sengit di dunia maya. Baru-baru ini, Israel mengalami kekalahan dalam pertempuran digital, mengakibatkan gelombang dukungan yang mengalir deras bagi Palestina. Namun, ironisnya, tuduhan terhadap pendukung Palestina sebagai pembeli jasa influencer mengungkap kebusukan propaganda yang melibatkan kedua belah pihak.
Pertempuran digital antara Israel dan Palestina mencapai puncaknya ketika pendukung Palestina berhasil mendominasi ruang sosial media. Berbagai platform seperti Twitter, Instagram, dan Facebook menjadi sarana di mana suara solidaritas terhadap Palestina bergema. Tagar pro-Palestina mendominasi trending topics, dan pesan dukungan bermunculan dari berbagai kalangan netizen global.
Meski demikian, respons Israel terhadap kekalahan digital ini justru mengejutkan. Pemerintah Israel tidak hanya menolak mengakui kekalahan, tetapi juga mengeluarkan tuduhan kontroversial terhadap para influencer dan netizen pro-Palestina. Mereka dengan cepat menuduh bahwa gelombang dukungan ini hanyalah hasil manipulasi finansial, dengan mengklaim bahwa influencer pro-Palestina telah dibayar untuk menyuarakan solidaritas mereka.
Namun, fakta di balik tuduhan ini menjadi semakin menarik ketika terungkap bahwa sebenarnya banyak influencer dan buzzer yang dibayar untuk menjadi alat propaganda Israel di dunia maya. Praktek ini, yang dilakukan oleh kedua belah pihak, membuka mata publik terhadap sisi gelap pertarungan informasi di era digital.
“Pendukung Pro-Palestina di media sosial telah dibayar,” tuding pendiri dan CEO Humanz seperti yang dilansir calcalistech.com melalui @4maze.
“Sulit untuk tidak melihat bahwa ada uang di balik ini semua,” ungkap Liav tak menerima kalah.
“Ketika kami memposting kampanye pro-Israel di platform kami, para influencer di luar Israel tidak terlibat dengan kampanye tersebut,” kata Liav ngotot.
“Mereka ragu-ragu untuk terlihat bekerja sama dengan Israel, mungkin karena kekhawatiran akan keselamatan mereka atau mungkin karena mereka menganggap mendukung ‘Israel’ sebagai sesuatu yang tidak populer. Dalam dua minggu pertama serangan, masih memungkinkan untuk membagikan bukti konten anti-Hamaz, tapi sekarang tidak lagi demikian. Motivasi untuk membagikan konten anti-Hamaz juga sangat berkurang,” tambahnya berkilah.
Humanz, yang didirikan oleh mantan programmer dari Unit Intelijen IDF (Israel Defense Force) 8200, telah mengalami transformasi platformnya untuk mendukung propaganda pro-Israel selama konflik di Gaza.
Boleh jadi memang penyalahgunaan media sosial sebagai alat propaganda telah menjadi isu global, dan konflik Israel-Palestina hanya memperkuat pandangan bahwa kebenaran bisa terdistorsi oleh kepentingan politik dan finansial. Kedua belah pihak terlibat dalam perlombaan untuk mendapatkan simpati dan dukungan dunia, dengan mengandalkan daya tarik emosional dan naratif yang sesuai dengan kepentingan masing-masing.
Penting untuk mengakui bahwa netizen memiliki peran besar dalam membentuk opini publik dan memberikan tekanan kepada pemerintah. Namun, pertarungan di media sosial juga membutuhkan pemahaman kritis dan kewaspadaan terhadap manipulasi informasi. Ketika netizen dicela atau dijatuhkan karena pandangan politik mereka, itu dapat merusak esensi kebebasan berpendapat yang seharusnya diperjuangkan di dunia digital.
Dengan adanya pertempuran digital antara Israel dan Palestina, penting bagi masyarakat untuk menyadari bahwa kebenaran tidak selalu terletak pada tangan yang kuat atau popularitas di media sosial. Pemahaman yang mendalam, kebijaksanaan, dan empati harus menjadi panduan ketika menghadapi konflik yang kompleks dan kontroversial seperti ini. Hanya dengan begitu, kita dapat berharap mencapai pemahaman yang lebih mendalam tentang realitas di lapangan dan menciptakan dialog yang lebih konstruktif di dunia maya.
Faktanya infuencer, buzzer, konten kreator atau siapa pun pemain sosial media tersebut, tak bisa memungkiri adanya fakta nyata bahwa kejahatan Israel dalam perang ini tak bisa ditutupi lagi dengan cara apapun. Busuknya bangkai arogansi dan kebiadaban militer Israel yang memborbardir Gaza dan menelan ribuat korban tak berdosa telah tersebar secara kasat mata. Cukup menjadi manusia yang mempunyai hati maka netizen mana saja, pasti akan berpihak ke Palestina. Justru butuh iming-iming bayaran atau fasilitas lainnya yang menggiurkan yang mungkin bisa memaksa seorang manusia  mau berpihak ke Israel. Bagaimana pun juga, kebenaran adalah kekuatan yang nyata. Pun di sosial media. Tabik.