Gas Air mata Memupus Celoteh Cita-cita Mereka

37
Kabut Gas Airmata di Stadion Kanjuruhan Malang | IST
Kabut Gas Airmata di Stadion Kanjuruhan Malang | IST

Gas Air mata Memupus Celoteh Cita-cita Mereka

Kejujuran itu satunya kata hati dengan perbuatan. Kejujuran tentang petaka Kanjuruhan. Kejujuran soal tragedi kemanusiaan. Kejujuran akan kondisi yang tidak sedang baik-baik saja.

Kanjuruhan bukan Tiannamen, daratan Cina. Peristiwa tujuh pekan untuk “sterilkan” alun-alun demokrasi 1989 yang memangsa lebih dari 300 nyawa. Kanjuruhan cuma medan sepakbola. Mereka suporter, penonton yang tak bawa senjata. Tak seharusnya dihadapi senjata gas air mata. Jujurlah tentang warga yang bagai mati sia-sia.

Terbayang celoteh bocah akan cita-cita. “Kalau udah besar nanti, aku mau jadi tentara,” katanya. “Aku pengen jadi dokter,” sahut teman mainnya. Tak sedikit pula yang bercita-cita jadi guru. Sederhana penuh makna, demi harapan masa depan.

Tak terbayangkan, bocah baru berumur dua tahun 10 hari kehilangan cita-cita. Bernama Gibran Raka Elfano meninggal dalam dekapan sang ayah. Sesak nafas disergap gas air mata. Keduanya tak berdaya. Sebagian korban berusia remaja – dewasa, 20 – 30 tahun. Tertua di antara 131 orang korban, 45 tahun. Adalah Muchamad Arifin dan Iwan Junaedi.

Di antara mereka, remaja wanita. Audi Nesia Alfiari (12), Aisyah Najwa Aswinanti (14), Lala (14), Lilik, Ny (15), Citra Ayu Amilia (15), Tasyia (16), Anisa Qotija (16), Elisabeth Agustin (16). Sementara pria di bawah 17 tahun: Halkin Al-Mizan (13), Revano Prasetya (15), Ahmad Dani Safarudin (15), Muhammad Ubaidillah (15), Gabriel (16), Moh. Rizki Darmawan (16) dan Moch Hashfi Al-Wafi (16).

Andai dia anak kita. Andai anaknya kerabat kita. Andai pun anak tetangga. Atau sederet andai lainnya. Tak cukup duka cita dan belasungkawa. Tak cukup pula tentang siapa dan siapa yang harus bertanggungjawab. Kejujuran yang satu dengan lainnya di ujung sana. Menanti jawabnya.***

iW